Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dilema sebelum menikah’

Stress - andyhakiem.wordpress.com

Yah, akhirnya aq memutuskan untuk menulis artikel ini, kenapa? ya pengen aja.. Berhubung aq dan teman-teman memang sudah ada di usia awam orang menikah, jadi mudah-mudahan artikel ini berguna. Sekalian menanggapi beberapa hal yang mungkin juga dialami orang-orang yang awam di masa-masa persiapan pernikahan. Hasil membaca di beberapa artikel ditambah nasihat dan curhatan teman-teman yang juga pernah dan sedang berada di posisi persiapan pernikahan, masa ini merupakan masa yang sensitif dan cenderung menyebabkan stress, apalagi kalau tipe orangnya susah dibawa nyantai. Konflik-konflik antara kita dan calon suami kadang terjadi hanya karena masalah sepele.

1. Kapan akan menikah? Kapan akad? Kapan resepsi?

Sesaat setelah terbang melayang karena datang pertanyaan “would you marry me” dari sang pujaan hati, maka akan muncullah serentetan pertanyaan lanjutan, tentang kapan? Sebagaimana pemuda usia 20-30an yang sedang senang-senangnya menikmati dan merencanakan kehidupan, setiap kita pasti punya plan hidup masing-masing. Dan mungkin jaaauh sebelum lamaran itu datang, kita sudah merencanakan, kapan harus pindah kerja, kapan harus menikah, kapan harus punya anak, kapan harus kuliah lagi, dan serentetan perencanaan hidup yang mungkin akan terusik dengan satu kalimat “would you marry me”.

Hei, tapi apakah benar kata itu merusak plan kita? Hm, jangan panik dulu, semuanya kan bisa dikomunikasikan. Sebelum bernegosiasi untuk menyesuaikan plan hidup masing-masing, kenali dulu seperti apa siy calon pasangan kita? Apa dia punya prinsip-prinsip khusus yang gak bisa dilanggar? Misalnya ada beberapa tipe suami yang tidak memperbolehkan istrinya bekerja, atau suami yang ingin istrinya selalu ada disisinya dan berbagai macam tipe lainnya yang mungkin akan membuat negosiasi menjadi alot, kudu sabar dan cari pilihan kata yang baik kalo begini mah.. 🙂

Sebelumnya tekankan dulu dalam fikiran kita, kita sedang ingin berkompromi tentang plan hidup, jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak, harus ada hal-hal yang dikorbankan antara kita dan dia, tujuan utamanya itu adalah mencapai kondisi ideal dimana hal yang saling kita korbankan menjadi minimal, ditambah saran-saran yang solutif dari kita. Misalkan saja, sejak tahun lalu sebelum berencana untuk menikah, aq sudah berencana bahwa tahun ini aq harus kuliah lagi. Tapi karena aq juga mungkin kerja, maka aq harus mengambil perkuliahan di malam hari atau weekend. Hal ini cukup berat karena pastinya, aq tidak bisa terus mendampingi calon suami yang kadang hanya available saat weekend, aq harus saving untuk biaya kuliah, dan mungkin  calon suami juga pengen, tapi belom bisa karena kondisi pekerjaan yang belom stabil. Akhirnya dengan berkomunikasi lagi,  kita sepakat untuk gantian, karena bagaimanapun menuntut ilmu selama masih bisa itu penting. Jadi kalau aq udah selesai S2 dan dia sudah mulai stabil kondisi pekerjaanya dia yang gantian ambil S2. Setelah selesai S2 mungkin aq bisa cari kerjaan yang lebih stabil dan fokus ngurus rumah tangga. 🙂

Selain masalah plan hidup yang berubah, masalah ‘kapan’ akan dipengaruhi juga oleh kesiapan kita dan calon suami dalam segi finansial (kalo mau resepsi yang lumayan gede), dan kesiapan mental orang tua dan calon mertua kita. Secara psikologis, mungkin sesaat setelah mengatakan “Yes, I will”, kita telah dalam kondisi siap untuk menikah. Tapi bagaimana dengan orang tua? Jika selama ini kita telah berkomunikasi dengan baik tentang rencana kapan kira-kira kita akan menikah, mungkin orang tua tidak akan kaget dan telah menyiapkan diri untuk menerima anggota keluarga yang baru. Tapi kalau maen slonong boy aja tiba-tiba bilang, “Ma, Pa, aku dilamar, bulan depan aku nikah ya?” bisa-bisa sakit jantung tuh orangtua kita. Kalo kata calon suamiku, kepercayaan orang tua akan kesiapan anaknya untuk menikah, selain dilihat dari segi finansial juga dari segi kaya apa sih calon istri atau calon suami anakku, jangan-jangan masih childish dan rombongan alay gitu.. 😆 Nah, penilaian kesiapan anak ini yang biasanya jadi pertimbangan si orang tua untuk memberikan restu sama si anak. Kalo dilihat masih alay-alay dan gak meyakinkan gitu paling juga dibilang, “tar lah setahun lagi aja, kamu ngsms aja masih susah dibacanya” 😆

Ada lagi niy kasus yang unik, mungkin hanya terjadi di Indonesia. Masih ada orang tua yang pengen anaknya nikahnya di tanggal atau hari baik, yang dicarinya susah, mesti pake hitung-hitungan gitu. Kalo gak nemu tanggalnya tahun ini, ya kamu nikahnya tahun depan, kalo gak nemu lagi ya tahun depannya lagi.. Haaaah…susah amat ya mau nikah aja.. **suara hati si anak** Nah, untuk kasus kaya gini, butuh pendekatan yang ekstraaaaa sama orang tua/calon mertua kita. Bagaimanapun menikah itu kan menggabungkan dua keluarga, bukan cuma urusan kita dan calon suami saja. Kita juga membawa nama keluarga kita, jadi segala macam masalah kaya gini harus diselesaikan, jangan dibiarkan atau parah-parahnya kita bersikap frontal dan malah menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Solusinya, pahamkan dulu masalah dasar penentuan hari pernikahan. Harusnya yang lebih diperhatikan untuk menjadi dasar penentuannya adalah masalah availabilitas kedua keluarga, dan keadaan finansial (jika ingin resepsi). Kalo dapet hari baik (yang entah gimana ngitungnya) tapi calon suami kita harus pergi keluar kota atau itu waktu hectic-hectinya kerjaan sehingga kita atau orang tua susah cuti kan jadi gak maksimal juga nanti acaranya. Pahamkan juga kalau, menurut pandangan islam, lebih baik menyegerakan pernikahan jika sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak, seperti hadits Rasulullah SAW:

“Tiga hal yang tidak boleh diperlambat: sholat bila sudah waktunya, jenazah bila sudah didatangkan, dan gadis bila sudah menemukan calon suami yang sekufu.” (HR At-Tirmidzi)


2. Uangnya Cuma Ada Segini..

Ini masalah basic yang hampir dialami semua calon pengantin, apalagi yang usianya masih 20an dan belum begitu mapan. Belajar dari pengalaman, beberapa kasus pernikahan yang pernah aq konsultasikan dengan mama terbentur pada masalah pembiayaan pernikahan. Sebagian orang mungkin bisa dengan santai bilang, tenang aja masih bisa pinjem kok. Tapi..hei..hei… masa hidup baruku dimulai dengan hutang, naudzubillah. Jadi mama sejak awal tegas sama aq kalau misalnya memang ada adakan resepsi, kalau enggak ya gak usah. Seadanya aja, kan walimah itu sunnah, yang wajib toh akadnya. Tapi mungkin gak semua orang tua beranggapan seperti itu. Dalam beberapa kasus, orang tua tetap ingin mengadakan resepsi pernikahan anaknya, dengan pertimbangan pride dan silaturahim terhadap saudara dan tetangga. Hal ini harus kita pahami juga, sebisa mungkin, selama masih bisa dipenuhi dan tidak melanggar hukum ya kenapa enggak. Mudah-mudahan kita bisa dapet pahala sunnahnya 🙂

Masalah pembiayaan resepsi menurut survei akan menghabiskan sekitar 70% dari proses pernikahan itu sendiri. Jadi, karena judulnya adalah dana terbatas, maka kita harus pintar-pintar niy memanage pengeluaran yang honestly suka gak sadar dipake buat apa aja. Caranya ya dengan mempersiapkan dengan baik rencana resepsi pernikahan kita. Hal yang harus dianalisis di awal perencanaan adalah, kira-kira pos apa yang akan memakan biaya paling besar dalam rencana pernikahan kita.

Kalau jarak antara rumah kita dan calon suami cukup jauh, biaya transportasi akan menjadi hal yang costing. Kalau peserta yang mau ikut ke acara walimah gak bisa dikurangi berarti cara lainnya adalah kita harus pilih waktu yang efektif untuk mengurangi biaya transportasi ini. Misalnya menunggu saat yang tepat untuk dapat membeli tiket pesawat economy promo (kadang harus sabar biar dapet yang bener-bener murah, mungkin nanti bisa dishare deh tips-tips mencari pesawat murah :))

Selanjutnya pos yang akan memakan banyak biaya adalah resepsi itu sendiri. Setelah menentukan tanggal pernikahan, coba cek dulu kira-kira sampai H-1 bulan ada berapa saldo di rekening kalian. Usahakan untuk hanya menggunakan sekitar 80-85% dana yang ada (kalo bisa sisakan lebih banyak). Sisakan untuk keperluan mendadak atau kebutuhan pasca pernikahan yang udah pasti makin banyak, seperti sewa rumah, isi rumah dan lain sebagainya.

Dengan perkiraan dana yang ada, coba cari informasi Wedding Organizer setempat tempat kamu akan melaksanakan resepsi. Sebelumnya pikirkan dulu kamu mau mengadakan resepsi di rumah atau di gedung, dengan pertimbangan kondisi rumah dan fisik serta psikologis orang tua. Kalau orang tua sudah tua dan kondisi rumah sepertinya tidak memungkinkan untuk pesta, sebaiknya pesta di gedung mungkin lebih baik. Secara umum, pesta di gedung akan memakan biaya lebih mahal, namun efek lelah (apalagi jika keluarga calon suami/istri kita datang dari tempat yang jauh) bisa direduksi. Selanjutnya bisa disimulasikan deh, hasil survei ke beberapa wedding organizer versus kamu dan teman-temanmu sendiri yang menjadi WO. Lihat plus minus dan kesesuaiannya sama budget. Tips lain adalah, kurangi pengeluaran-pengeluaran yang gak terlalu urgent seperti masalah baju pernikahan, seserahan, percetakan undangan atau souvenir dan lain sebagainya. Kegiatan survei harga untuk masalah undangan dan souvenir mungkin akan melelahkan, tapi demi mengurangi pengeluaran, hal ini kudu dilakukan. Setelah survei dilakukan, nah sesuaikanlah dengan budget, kalau memang ingin mendapatkan undangan yang lebih bagus/mahal dengan budget yang sama mungkin jumlah undangan fisik yang dicetak bisa dikurangi, sebagai gantinya bisa digunakan undangan elektronik atau announcement via email/facebook.

Masalah selanjutnya adalah hidup setelah menikah, beberapa teman mengaku stress memikirkan bagaimana bisa hidup berdua dengan suami setelah tau pendapatan per bulan si suami, apalagi jika si calon suami melarang si calon istri untuk bekerja setelah menikah. Hey..hey.. calon ibu-ibu…itulah fungsinya kita sebagai seorang istri, mendisiplinkan pengeluaran kita dan suami, untuk bisa hidup lebih baik. Kuncinya mungkin, banyak-banyak bersyukur, manajemen pengeluaran yang baik, kurangi atau hindari hutang, usahakan walaupun sedikit tetap menabung, dan jangan lupa bayar zakat :D, karena dengan mengeluarkan hak orang lain dari pendapatan kita, harta kita insya Allah akan lebih berkah.

Jika dengan amat sangat harus berhutang, ukur dulu pengeluaran pasca pernikahan, dan lihat berapa uang yang bisa kita sisihkan untuk melunasi hutang tersebut dalam jangka waktu tertentu. Tapi semua orang juga pasti tidak mau berlama-lama punya hutang, apalagi jika setelah menikah harus membayar KPR, dan biaya-biaya lain. Jika misalnya kita hanya bisa menyisihkan 30% dari gaji untuk membayar hutang dan kita ingin hutang tersebut segera lunas maksimal 3 sampai 6 bulan pasca pernikahan. Maka maksimum hutang yang masih rasional kita ambil adalah sekitar 20-25% x 5 bulan gaji. Sebisa mungkin jangan menghabiskan semua uang gaji kita 6 bulan ke depan hanya untuk resepsi satu hari. Waduh, aq dah kaya financial consultant aja niy, heu2…. banyakan teori yah, tapi mudah-mudahan berhasil deh..

Ayo mulai hidup baru kita tanpa berhutang 😉 #kampanyeantihutang


3. Kok kayanya aku terus siy yang riweuh

“Aq capek tau! kayanya aq terus yang ribet, kamunya tenang-tenang aja”

Waaah, pernah pengen tereak kaya gitu? wajar siy, apalagi kalo lagi menstruasi, hehe. Jujur aja, masalah persiapan pernikahan itu gak simpel, bener-bener diuji kesabaran abis-abisan deh. Secara psikologis, otak wanita itu memang lebih ribeeet daripada kaum lelaki, jadi wajar kalau para wanita ini mikirin sesuatu lebih ribet daripada cowok.

Misalnya aja waktu milih undangan, test food atau seserahan, mungkin si cowok lebih prefer mikir, uang ada berapa, butuh berapa banyak, ada percetakan yang harganya segitu, ya udah. Tapi mungkin kalo cewek mikir lebih ribet, kaya aq pengen undangannya warna ini biar senada sama warna kebaya aq, terus pengennya harganya yang segini, kalau bisa lebih murah, jadilah survei kesana-kesini yang mungkin buat cowok hal kaya gitu itu ribet.

Solusinya, bikin timeline dan bagi jobdesk. Pisahkan tugas yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri dan yang harus dikerjakan berdua. Misalnya untuk pesan undangan dan souvenir, karena cewek lebih pemilih dan keberadaan cowok gak begitu berati, mungkin lebih baik kalau diserahkan aja sama cewek biar lebih puas milihnya. Untuk urusan logistik acara, susunan acara, koordinasi dengan pengisi acara dan lobbying mungkin bisa dilakukan oleh cowok. Tapi, walaupun dikerjakan sendiri-sendiri, sebisa mungkin tetap ada komunikasi walapun cuma sekedar pemberitahuan. Karena udah sepakat saling percaya sama hasil tugas yang dibagi jangan terlalu mengusik tugas yang lain, nanti kalau ada masalah, baru dipikirin sama-sama solusinya.

Tapi yang paling penting dari semuanya adalah rasa percaya dan ikhlas. Ketika hendak menikah, memangnya apa yang kita inginkan? tentu saja keharmonisan rumah tangga kan? Jika tidak dimulai dari sekarang, yang mungkin hanya masalah-masalah kecil, bagaimana kita menghadapi permasalahan rumah tangga yang mungkin lebih kompleks dari saat ini. Secara umum laki-laki itu lebih logis dan egois, jadi gak ada salahnya kita mengalah dan membicarakan semuanya kembali dengan fikiran yang jernih. Kalau ada masalah karena sensitifitas kita, ya  harus secepatnya kita sadari.

Buat para cowok juga, secara umum cewek itu lebih sensitif, jadi di masa-masa persiapan pernikahan ini cobalah beri perhatian yang lebih, mungkin satu atau dua sms sehari yang menanyakan kabar cukup untuk menenangkan hati si calon istri. Karena kebanyakan kasus di masa-masa ini wanita akan semakin sering meragukan si calon suami. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa bener aq harus nikah sama dia”,Apa nanti aq bisa hidup sama dia”, “Apa bener dia cinta sama aq, selalu aq duluan yang sms” dan banyak pertanyaan-pertanyaan meragukan lainnya. Salah satu penyakit kronis wanita itu adalah, senang bertanya pertanyaan yang menyakiti diri sendiri, seperti pertanyaan di atas itu, hehe…

Waaah, panjang sekali postinganq kali ini…mudah-mudahan berguna, dan kalau ada salah-salah kata dan saran, silahkan dikritisi dan mari berdiskusi, karena aq juga belum benar-benar melewati masa ini… hehe….

Sekarang cukup sekian dulu, berhubung sudah malam, perut keroncongan, harus segera tidur atau aq akan melahap semua yang ada, haha… 🙂

Buitenzorg, 27 Mei 2010

pratigina © 2010

Iklan

Read Full Post »