Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘curcol’

Langit Harus Biru

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39:10)

Sejak pagi aku mengutak-atik laptop dan tak satu pun artikel yang aku cari aku dapatkan. Aku hampir desperate karena tak kunjung menemukan yang aku cari, kerjaan rumah masih tak tersentuh, tumpukkan buku yang harus dibaca dan tugas yang harus diselesaikan masih menumpuk di meja. Pemandangan ini membuat udara di sekitarku semakin terasa gerah. Lantas tiba-tiba aku teringat dia, yang tak ada disini. Aku membuka-buka ponsel mencari-cari pesan darinya, satu dua tiga, rasanya sehari lebih dari sepuluh kali kami berbalas sms. Walaupun selang membalasnya lama, tapi aku percaya dia berniat membalas pesanku.

Aku berjalan gontai merebahkan diri ke kasur karena merasa tak sanggup lagi berkutat di depan laptop. Rasanya ingin sekali mengirim pesan atau menelepon hanya untuk mendengarkan suaranya, tapi tertahan rasa. Sabarlah…sms tadi saja belum dibalas, mungkin dia masih sangat sibuk. Aku mulai membuka file-file di ponsel, mencari-cari guratan senyum yang meneduhkan hati itu, tapi naas malah air mata yang terjatuh. Dan aku tak tau, kenapa aku menangis. Aku tau, dalam sepi dan kerinduan ini inginku sebisa mungkin hujan turun dan waktu membiarkanku menangis sampai tertidur. Lantas apakah semua penatku ini hilang? sayangnya tidak, lalu apa? Azan menjawab tanyaku, aku melompat dan menghambur ke air. Ah, sangat segar, tapi air mataku tak hendak berhenti mengalir, karena lagi-lagi teringat, harusnya di saat seperti ini kau ada dihadapanku melempar senyum sambil berkata, “sholat yuk”.

Aku sholat dengan mata sembab, secara spontan kupilih surat Al Insyirah, terngiang-ngiang di telingaku, “Fa inna ma’al ushri yusraa, inna ma’al ushri yusraa..”, aku yakin dapat melewati hari-hari ini. Selesai sholat aku sedikit tenang dan berniat kembali ke aktifitasku. Aku berusaha mengembangkan senyuman ketika tanpa sengaja menangkap bayanganku sendiri di cermin. Lalu aku teringat lagi, kamu biasa memelukku dari belakang dan berkata kalau aku cantik. Aku tidak cantik, tapi seberapa kali pun aku mengelak, kau akan tetap tersenyum dan mengatakan aku cantik, dan itu membuatku kembali ingin menangis.

“Hai, apa kabar?”, seorang teman menyapaku lewat instant messaging.

“Baik”, jawabku.

“Dimana sekarang? Katanya udah nikah ya?”

“Iya, alhamdulillah.”

“Enak dong, ada yang nemenin tiap hari,” deg…salah sekali..

“Hehe, nggak kok. Aku LDR niy sama suamiku.”

“Owh, emang kenapa gak ikut suami aja?”

“Masih ada kuliah, dan gak memungkinkan.”

“Lhah, salah sendiri itu mah, gak ada yang mau ngalah sih ya”

“Hehe :P”

Hahaha, aku tertawa sendiri dalam hati, kecut. Iya ini pilihan hidupku sendiri. Apa iya aku ini egois? apa iya semua ini salahku sendiri? Mungkin memang iya. Lantas aku tak boleh protes ya? Sungguh, setiap kali kamu bilang “Sabar ya sayang…” aku berontak dan bertanya dalam hati, “Kenapa harus aku yang bersabar?” lalu Allah menjawab, “Karena kamu yang lebih mampu bersabar”. Aku tidak tau sayang, tidak pernah tau, apakah kamu juga merasakan kerinduan yang sama? Apakah ini akan selamanya? Apakah setelah dimakan waktu semua kerinduan ini hanya akan menjadi kebiasaan dan tak lagi terasa? Aku masih sering bertanya-tanya apakah sabar ada batasnya? Tapi ternyata sabar tak ada batasnya. Kesabaranku selalu kurang setiap kali merelakanmu pergi, kesabaranku selalu hilang ketika kau berkata, “Aku balik ke kantor besok ya..”, dan aku selalu mengeluh dengan semua keadaan yang kuciptakan sendiri. Tapi kamu tak pernah bosan dengan semua itu. Sungguh sayang, aku belum bisa bersabar, mungkin karena itulah, Allah masih akan terus membuatku berada dalam keadaan ini.

Setiap kali aku berkata cukup!, ada sesuatu yang menyusup dalam hati. Aku beruntung, walaupun jauh kita masih berada di dunia yang sama, suaramu masih bisa kudengar dengan jelas. Walaupun jauh, saat bertemu aku akan melupakan semua rasa sakit karena menantimu. Walaupun jauh, kamu masih peduli dan dengan rutin menanyakan kabar dan mengabari, sehingga tetap menjadikanku seseorang yang paling tau dimana kamu. Lalu, semua itu membuatku berfikir, daripada aku mengeluh, lebih baik aku mendoakan keselamatanmu, mendoakan kebahagiaanmu, menjaga semua yang kamu percayakan padaku. Sayang, maafkan aku yang masih suka mengeluh.Walaupun kau bilang itu wajar, tapi aku tau aku salah. Aku tau kita sedang sama-sama jatuh cinta….

Untuk lautan, ketika ia tenang, langit harus biru, agar lukisannya jadi indah dan batas horizon terlihat jelas..

Langit Senja, 13 Oktober 2010
rancu, antara cerpen dan curcol

Iklan

Read Full Post »