Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita-cerita kita..’ Category

Langit Harus Biru

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39:10)

Sejak pagi aku mengutak-atik laptop dan tak satu pun artikel yang aku cari aku dapatkan. Aku hampir desperate karena tak kunjung menemukan yang aku cari, kerjaan rumah masih tak tersentuh, tumpukkan buku yang harus dibaca dan tugas yang harus diselesaikan masih menumpuk di meja. Pemandangan ini membuat udara di sekitarku semakin terasa gerah. Lantas tiba-tiba aku teringat dia, yang tak ada disini. Aku membuka-buka ponsel mencari-cari pesan darinya, satu dua tiga, rasanya sehari lebih dari sepuluh kali kami berbalas sms. Walaupun selang membalasnya lama, tapi aku percaya dia berniat membalas pesanku.

Aku berjalan gontai merebahkan diri ke kasur karena merasa tak sanggup lagi berkutat di depan laptop. Rasanya ingin sekali mengirim pesan atau menelepon hanya untuk mendengarkan suaranya, tapi tertahan rasa. Sabarlah…sms tadi saja belum dibalas, mungkin dia masih sangat sibuk. Aku mulai membuka file-file di ponsel, mencari-cari guratan senyum yang meneduhkan hati itu, tapi naas malah air mata yang terjatuh. Dan aku tak tau, kenapa aku menangis. Aku tau, dalam sepi dan kerinduan ini inginku sebisa mungkin hujan turun dan waktu membiarkanku menangis sampai tertidur. Lantas apakah semua penatku ini hilang? sayangnya tidak, lalu apa? Azan menjawab tanyaku, aku melompat dan menghambur ke air. Ah, sangat segar, tapi air mataku tak hendak berhenti mengalir, karena lagi-lagi teringat, harusnya di saat seperti ini kau ada dihadapanku melempar senyum sambil berkata, “sholat yuk”.

Aku sholat dengan mata sembab, secara spontan kupilih surat Al Insyirah, terngiang-ngiang di telingaku, “Fa inna ma’al ushri yusraa, inna ma’al ushri yusraa..”, aku yakin dapat melewati hari-hari ini. Selesai sholat aku sedikit tenang dan berniat kembali ke aktifitasku. Aku berusaha mengembangkan senyuman ketika tanpa sengaja menangkap bayanganku sendiri di cermin. Lalu aku teringat lagi, kamu biasa memelukku dari belakang dan berkata kalau aku cantik. Aku tidak cantik, tapi seberapa kali pun aku mengelak, kau akan tetap tersenyum dan mengatakan aku cantik, dan itu membuatku kembali ingin menangis.

“Hai, apa kabar?”, seorang teman menyapaku lewat instant messaging.

“Baik”, jawabku.

“Dimana sekarang? Katanya udah nikah ya?”

“Iya, alhamdulillah.”

“Enak dong, ada yang nemenin tiap hari,” deg…salah sekali..

“Hehe, nggak kok. Aku LDR niy sama suamiku.”

“Owh, emang kenapa gak ikut suami aja?”

“Masih ada kuliah, dan gak memungkinkan.”

“Lhah, salah sendiri itu mah, gak ada yang mau ngalah sih ya”

“Hehe :P”

Hahaha, aku tertawa sendiri dalam hati, kecut. Iya ini pilihan hidupku sendiri. Apa iya aku ini egois? apa iya semua ini salahku sendiri? Mungkin memang iya. Lantas aku tak boleh protes ya? Sungguh, setiap kali kamu bilang “Sabar ya sayang…” aku berontak dan bertanya dalam hati, “Kenapa harus aku yang bersabar?” lalu Allah menjawab, “Karena kamu yang lebih mampu bersabar”. Aku tidak tau sayang, tidak pernah tau, apakah kamu juga merasakan kerinduan yang sama? Apakah ini akan selamanya? Apakah setelah dimakan waktu semua kerinduan ini hanya akan menjadi kebiasaan dan tak lagi terasa? Aku masih sering bertanya-tanya apakah sabar ada batasnya? Tapi ternyata sabar tak ada batasnya. Kesabaranku selalu kurang setiap kali merelakanmu pergi, kesabaranku selalu hilang ketika kau berkata, “Aku balik ke kantor besok ya..”, dan aku selalu mengeluh dengan semua keadaan yang kuciptakan sendiri. Tapi kamu tak pernah bosan dengan semua itu. Sungguh sayang, aku belum bisa bersabar, mungkin karena itulah, Allah masih akan terus membuatku berada dalam keadaan ini.

Setiap kali aku berkata cukup!, ada sesuatu yang menyusup dalam hati. Aku beruntung, walaupun jauh kita masih berada di dunia yang sama, suaramu masih bisa kudengar dengan jelas. Walaupun jauh, saat bertemu aku akan melupakan semua rasa sakit karena menantimu. Walaupun jauh, kamu masih peduli dan dengan rutin menanyakan kabar dan mengabari, sehingga tetap menjadikanku seseorang yang paling tau dimana kamu. Lalu, semua itu membuatku berfikir, daripada aku mengeluh, lebih baik aku mendoakan keselamatanmu, mendoakan kebahagiaanmu, menjaga semua yang kamu percayakan padaku. Sayang, maafkan aku yang masih suka mengeluh.Walaupun kau bilang itu wajar, tapi aku tau aku salah. Aku tau kita sedang sama-sama jatuh cinta….

Untuk lautan, ketika ia tenang, langit harus biru, agar lukisannya jadi indah dan batas horizon terlihat jelas..

Langit Senja, 13 Oktober 2010
rancu, antara cerpen dan curcol

Iklan

Read Full Post »

Dan demikianlah Rabb menjadikan pasangan dari sisi-mu agar kamu merasakan ketenangan..

Seperti badai agatha, pada laut yang merindukan langitnya; menggapai-gapai, bergemuruh badai..

Seperti seorang rabi, pada sisa usia senja; menandai Muhammad dengan indera keenamnya dan berkata “dialah..dialah!”

Seperti jua samudera, pada siluet yang digariskan hujan di kanvas lazuardi, lelah menghantar ombaknya,ingin berhenti

Seperti itu aku menemukanmu;

resah untuk mencari tenang dalam genap yang sempurna: purnama..

Maka demi itu,aku turut wasiat ulama: “be good of you, to find the good partner for you..”

Sejak itu aku mencoba berikhtiar:

membuat list of criteria

mendefinisikan idealisme rumah tangga

menggores sketsa wajahnya di relung jiwa

menggambar peta untuk jejak-jejak hidup bersamanya

Duhai Maha Pembolak-balik hati

Engkau jua yang menghantarkan aku dari dia menjadi dia,

lalu dia (oops..out of criteria),

lalu dia “ah..tak kasat mata”

lalu dia (tetapi hati menampiknya),

kemudian dia: Ahh..aku lelah Ya Rabb..

Tak pantas jua kiranya  hamba nista ini berlagak mencari sempurna

Biar kuserahkan dia padaMu: melalui sujudku yang kelu

kucampakkan list of criteria,kuhanguskan mimpi dan masa lalu

tak lagi kugunakan mata untuk menyibak tirainya

tak jua rasa yang mengombang-ambingkan jiwa

kuhanya hantarkan hati, agar ia berjumpa dengan doa

Ramadhan silam: aku bersimpuh saja di serambi lailatulqadr,

meluncurkan panah-panah doa dari busur harapku pada-Nya:

“Rabbana hablana,min azwaajina qurrota a’yun..waja’alna lil muttaqiina imaaman..”

Maka Ya Rabb, terima kasih telah mewujudkan Mimpi Ramadhanku: izinkan aku menjumpai Ramadhan tahun ini bersama mimpi itu,

“Jawaban dariMu”, “pusaka hidupku”: Sang Rusuk Emas

-surat dari samudera kepada langitnya-

-alesagara-

Read Full Post »

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah asing berserakan, itu yang namanya cantik ya? Aku terusik dalam bungkam. Bukan terkesima oleh kemolekan tubuh para wanita yang terpajang santai di billboard dan poster itu, aku malah merasa malu, karena rasanya aku yang tengah ditelanjangi oleh semua mata yang melihat mereka. Rasanya sangat menyesakkan, saat beberapa wanita dengan bersusah payah, bahkan mungkin mengorbankan banyak hal untuk menutup auratnya, beberapa wanita lain dengan bangganya mengumbar. Rasanya sakit, sepertinya usaha orang-orang yang pertama tidak dihargai. Hm, mungkin mereka bilang itu hak azasi. Iya ya? Bukankah menutup aurat itu hukumnya wajib? Sama halnya seperti sholat? Aku makin tidak mengerti.

Lambat dan penat, bus yang kutumpangi ini bergerak sangat lambat di jam sibuk. Padahal di luar tengah hujan cukup lebat. Beginilah ibukota, rasanya waktu yang berharga banyak terbuang di jalanan ini. Untungnya ada sesosok wajah di hadapanku yang meskipun terlihat letih masih terasa mesra senyumnya. Ini Latief suamiku, sedari tadi dia berdiri disisiku sambil sesekali tersenyum, seperti hendak berkata kalau dia baik-baik saja. Aku tau dia lelah, lelah karena perjalanan jauh yang kami tempuh, tapi dia masih dengan sigap menyerahkan tempat duduknya pada seorang lansia yang masuk ke bus hanya berselang 5 menit sejak kami duduk.

Aku dibesarkan di desa, pergerakan informasi sangat lambat, meskipun pemahaman masyarakatnya akan Islam tidak syamil, tapi mereka melaksanakan apa yang mereka tahu dan pahami dengan sungguh-sungguh. Sami’na wa atho’na. Dibesarkan dengan segala keterbatasan, aku menjadi orang yang juga hidup apa adanya, tidak pernah menginginkan banyak hal. Satu kata yang selalu kuingat dari ayah adalah, panjang angan itu tidak baik. Apakah salah bermimpi? Tanyaku waktu itu pada ayah. Ayah hanya menjawab dengan tenang, “Tidak salah bermimpi, tapi jalani secara bertahap, syukuri semua yang kita dapat. Melupakan nikmatnya proses saat meraih mimpi membuat kita sering kecewa, makanya tidak salah bermimpi, tapi jalanilah perlahan, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.” Ayah mengutip dua ayat terakhir surat Al Insyiraah. Dia mengajarkanku untuk mementingkan apa yang disebut proses, bukan hasil.

Aku pertama kali berjilbab bukan karena dipaksa atau disuruh oleh orangtuaku, tapi karena sindiran dahsyat dari Al Quran. Aku langsung memakainya, tanpa ragu. Apa yang meragukanku? Itu perintah. Apa lantas aku jadi orang yang suci setelah memakainya? Tidak juga, aku yakin masih banyak dosa dan maksiat yang aku lakukan setelah memakainya, tapi setidaknya, dengan menutupi auratku, aku tidak membuat orang lain juga berdosa karena melihatnya. Setidaknya, dengan memakainya aku menjadi malu apabila ingin berbuat ini dan itu. Itulah yang disebut proses buatku, proses membenahi diri dengan melakukan yang harus kulakukan terlebih dahulu, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.

Kariima Latief, itu namaku..

Bunda adalah wanita yang amat baik dan berbakti pada ayah, tapi dia hanyalah wanita desa biasa, yang belum sampai padanya berbagai ilmu. Aku pun salah, karena tidak berbagi ilmu pada bunda, aku sibuk dengan dunia remajaku. Selembar, dua lembar kerudungku sering dipandangi bunda. Hatiku terenyuh, apa bunda ingin memakainya? Dia sering memakai selendang seadanya ketika pergi pengajian. Tapi tidak di sela-sela hari sibuknya menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan melayani pembeli di kedai depan. Bunda memang tak pernah pergi lebih jauh dari ujung gang rumah, karena khawatir ayah yang sering tiba-tiba pulang, atau tak ada yang menjaga kedai kecilnya. Tapi mungkin bunda juga ingin terlihat lebih cantik dengan kerudung merah marun berpayet seperti milik Hajjah Isna yang sering diceritakannya, dan aku memang yakin bunda bakal lebih cantik. Tapi mungkin bunda adalah wanita yang tak banyak inginnya, tepat seperti pesan ayah. Dia lebih senang membelikanku atau kakakku baju baru dari sisa keuntungan jualannya, daripada membelikan baju baru untuknya sendiri.

Saat lebaran, aku ingat, bunda memakainya dengan sangat rapi. Kerudung ungu, cantik sekali. Ayah hanya diam, sambil tersenyum. Bunda cantik, dan aku tidak pernah lagi melihat bunda melepas kerudungnya di luar rumah setelah itu. Itu titik awal yang indah. Ayah ternyata tak pernah keberatan, bahkan dengan kasih sayangnya berkali-kali setelahnya, aku dapati Ayah membelikan gamis untuk bunda. Seperti mendapati impian yang sudah lama diinginkannya. Raut wajah ayah menyiratkan bahwa ia telah mendapati bidadarinya di dunia. Yang walaupun tak muda lagi, tapi rasanya sudah sempurna. Bunda memakainya karena keinginannya sendiri.

Kariima Latief, itu namaku..

Annisa, kakakku yang cantik dan terpelajar. Darinya aku mendapatkan hadiah ulang tahun Al Quran yang berterjemah pertamaku, dan ayat-ayat yang selama ini tak kumengerti seperti pintu yang terbuka lebar. Aku seperti mendapatkan seluruh dunia di tanganku. Kakakku adalah orang yang cukup terbuka fikirannya, namun dia kurang kuat hatinya. Aku tahu, karena dia cerita padaku, kalau dia pertama kali memakai kerudung karena rasa cintanya pada seorang pria. Katanya pria itu soleh, dan berkata pada semua orang kalau dia suka wanita berkerudung. Dengan niat itulah, kakakku berkerudung. Tak lama kemudian, laki-laki itu menikah, dengan wanita yang tidak berkerudung, hanya lebih cantik, lebih berpendidikan dan lebih kaya. Impiannya, menjilbabi wanita itu setelah menikah. Tapi entahlah, sampai sekarang aku lihat istrinya masih belum berkerudung tuh. Kakakku sempat kecewa dan hendak melepas kerudungnya, tapi setelah sindiran sinisku padanya dia sepertinya mengurungkan niatnya.

“Kakak kecewa? Terus mau lepas kerudung? Memangnya kerudung ini dia yang suruh pake, orang yang suruh Allah kok. Kalo kakak lepas berarti kakak kecewa sama Allah? Wah, betapa durhaka dan gak berterimakasihnya kakak… sementara banyak orang yang ingin berkerudung tapi dilarang,” sindirku sinis sambil melengos pergi.

Kariima Latief, itu namaku..

Hujan masih mengguyur ibukota siang itu, suasana masih sepenat tadi. Jalanan tampak sepi dari manusia. Hanya di pinggir-pinggir jalan menuju pusat perbelanjaan banyak anak-anak ojek payung yang menunggu para pengguna angkutan umum turun dan menyambangi mereka. Gedung-gedung bertingkat menjulang mengingatkanku pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Aku berhasil memperoleh gelar diplomaku, dengan susah payah aku melamar pekerjaan kesana sini, namun tidak ada jawaban. Dari nama saja pun tidak menjual, seloroh teman seangkatanku. Jikapun ada, mereka lantas menanyakan kerudungku. Lalu menanyakan apa yang akan aku pilih antara pekerjaan dan keluarga. Aku dengan tegas menyatakan tidak akan merubah penampilan dan pilihanku. Apa gunanya ilmu yang dengan susah payah kupelajari, jika ternyata hanya fisik yang mereka lihat.

Aku hampir putus asa, lantas suatu malam aku diingatkan lagi olehNya lewat An Nahl ayat 69, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik” dan satu hal yang selalu membuatku tidak boleh berputus asa adalah perkataan Rasulullah SAW bahwa doa seseorang itu akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru menyebabkan dia berkata “aku berdoa tapi tidak dikabulkan”.

Alhamdulillah, tidak lama berselang setelah malam itu, datang seorang pemuda yang melamarku. Seorang yang alim, keras wataknya namun lembut hatinya selembut namanya, Abdul Latief. Dengan jawaban Allah itu, maka luruhlah semua kegundahanku. Bukankah yang kuingini hanya memperoleh ridha Allah? Sedangkan dengan memiliki suami, menurutinya dan memperoleh ridhanya aku akan memperoleh pahala menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah dan berjihad. Alhamdulillah juga, aku masih diberi kesempatan mengamalkan ilmu, dengan menjadi guru di madrasah dekat rumah mungil kami. Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sekarang, aku melewati jalanan ini, dengan segala protes kecil di hati, segala hal yang sebabnya tidak kumengerti dan segala hal yang ingin kuperbaiki. Seperti diingatkan, bahwa masih banyak kewajiban yang harus aku lakukan di dunia. Sudah cukup segala nikmat Allah untukku, lantas untuk mereka? Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Namun tetap dengan tegas aku akan berkata,

Kariima Latief, itu namaku..


In the rainy day
Happy sweet seventeen for my sister ^^
Buitenzorg, 16 Juni 2010
pratigina©2010

Read Full Post »

Dear cinta,
Disini mulai senja,
karena hadirmu memudar..
padahal baru semalam kau tak disini..

Pagi masih sepi, semburat matahari ungu juga masih malu-malu muncul menerjang gelap. Rembulan juga masih bertenger di posisinya, walau sinarnya kalah dengan sang bhaaskara. Aku sengaja keluar dari rumah, untuk menghirup udara yang bercampur dengan embun. Hm, pagi ini sejuk, dan mesra, tapi sayangnya kau tidak ada disini. Huff…, aku menghela nafas dalam, mengenyahkan semua sesak karena rindu yang memuncak… tak bisakah kuingat senyummu saja, karena sesungguhnya ini masih pagi, tak seharusnya kuawali hari ini dengan kesedihan. Kau hanya pergi sebentar saja kan sayang…
“Na, Nana…ngapain kamu di luar?”, suara mamaku terdengar menghapus lamunanku.
“Hm, nggak apa-apa kok Ma, nyari udara seger aja.” sahutku.

“Ya udah sarapan dulu sana, ada roti ama teh manis tuh,” lanjut mamaku.

“Heh?? masih pagi Ma, ntar aja lah… mau peregangan otot dulu, nyapu-nyapu gitu..hehe,” sahutku lagi sambil mencari-cari sandal.
“Hoi kak! sms niy”, si tengil Nyawang menghampiriku setengah berlari sambil menyodorkan ponselku.
“Sapa?” tanyaku.
“Hm, gtw, kayaknya siy dari nadanya yang norak itu dari tunanganmu itu tuh..,” Nyawang menyahut dengan nada mengejek.
“Heh, gitu-gitu kan calon abang iparmu tuh.”
“Ye, yang norak kan kamu, pasang nada sms kek gitu, bukan calon abang iparku.”
“Oiya, ya, hehehe…” sahutku sambil garuk-garuk kepala.
“Bales tuh, keburu ketiduran lagi dia nungguin kamu bales.” Nyawang ngeloyor pergi.

[cinta, dah bangun, lagi apa?]

Hm, ternyata dia kangen juga.

[udah sayang, aku lagi menikmati udara pagi sama embun-embun sambil lirik-lirik kamu yang malu-malu muncul dari timur. Bhaskaraku lagi apa? aq telpon ya..]

Aku terdiam sejenak, menunggu balasannya. Kadang merasa aneh sendiri, bermanja-manja dengan orang ini di pagi-pagi buta begini. Tapi entahlah, that’s a natural. Tak lama terdengar suara sms yang diklaim norak oleh adik semata wayangku.

[lagi mau olahraga, jangan deh…aq gak mau bawa HP, yang penting aq tau kamu baik-baik aja, have a nice day ^_^]

Hm, ada sedikit rasa kecewa, tapi yasudahlah, yang penting dia juga baik-baik saja.

[OK, kamu juga ya cinta..^_^]

Aku melanjutkan niat awalku untuk menyapu halaman sambil senyum-senyum sendiri. Nyawang yang mengintip dari jendela geleng-geleng kepala. Hari itu kulanjutkan dengan mandi, sarapan, sholat dhuha, mengecek email, kali aja ada panggilan dari beberapa lamaran pekerjaan yang aku masukkan. Setelah puas mencari-cari lowongan pekerjaan yang baru, aku lantas mencoba menghubungi Bhaskara.

[Assalamu’alaikum, hei, udah mau dzuhur niy, tadi sarapan apa?]

Tak lama setelah aku mengirim sms itu, suara azan zuhur terdengar, Bas belum juga membalas smsku. Aku lantas wudhu, kembali mengecek inbox, belum juga ada, aku lantas sholat dengan sedikit rasa galau. Ah mungkin lagi sibuk, atau ketinggalan kali ya hpnya. Aku menyibukkan diri dengan kegiatan rumah. Hari mulai sore, azan ashar sudah terdengar, Bas belum juga membalas smsku. Hm…tunggu jam 5 deh…mungkin HPnya memang ketinggalan.

Sekarang sudah jam 7 malam, Bas belum juga membalas smsku. Berkali-kali kutelepon, selalu sibuk. Kalau ketinggalan kan harusnya nyambung, tapi ini nadanya sudah langsung sibuk. Hm, mungkin memnag sibuk atau jaringannya lagi bermasalah. Tapi aku tidak bisa menyimpan rasa kekhawatiranku. Bas tidak biasanya seperti ini jika pun dia sibuk. dia pasti bilang dulu. Sehingga aku tidak sekhawatir ini. Jangan-jangan ada apa-apa. Aku semakin stress ketika menyadari Bas sedang keluar kota sendiri, menginap di hotel yang aku lupa menanyakan nama hotelnya, dan aku tidak tau siapa yang bisa kutanya keberadaannya.

Zrrrt…tiba-tiba ada suara sms masuk, aku langsung menghambur mengambil ponselku. Dari Bas, aku langsung bersyukur dalam hati dan tak sabar membukanya.

[jangan hubungi gw lagi.]

Hah? apa ini? gw??? Bas gak pernah kaya gini. Aku mengecek lagi sumber sms itu, benar itu Baskara. Aku langsung menelepon, minta penjelasan. teleponku di angkat, tapi tidak ada yang menjawab, hanya sunyi dan suara mobil yang lewat sesekali. Ya ampun, ini siapa, kemana Baskara?? Aku mencoba mengirim sms lagi, tapi gagal. Sepertinya sudah dimatikan. Ya Allah…

Aku menceritakan kejadian ini pada mama dan adikku, mereka bilang mungkin hpnya diambil orang dan belum ada waktu untuk menelepon. Hummm mudah-mudahan…that’s relieving.. Tapi gimana Bas tanpa ponsel? dia kan sedang tugas di luar kota…

Aku tidak bisa tidur malam itu, segala macam kemungkinan buruk menghantuiku. Aku mencoba menepis berkali-kali, kadang menangis, sampai aku lelah sendiri dan akhirnya tertidur.

Zzzrrrrtttttt….aku terbangun mendengar suara ponselku. Nomor tak dikenal, hm… mungkin saja Bhaskara.

“Halo”
“Halo, dengan Mbak Chandra?”
“Iya, ini siapa?”
“Ini Arka mbak,”
“Arka?” aku berfikir sejenak. Arka, adiknya Baskara..
“Arkaa….kamu tau kabar Baskara?”
“Hehe…iya Mbak, mau ngabarin…Mas Baskaranya udah dirumah.” Sahut Arka cengengesan.
“Hufff…gitu ya….baik-baik aja kan?”
“Iya, lagi capek katanya. Jadi aq yang disuruh nelpon Mbak”
“HPnya kemana kok gbisa dihubungi?”
“Diambil orang Mbak, trus biasa, Masku kan pikun, dia gak inget nomor orang satu pun. Makanya dia gak bisa ngehubungi sapa-sapa. Trus kemaren dia juga nyasar di sana, makanya sekarang kecapean, abis jalan berapa kilo gitu, soalnya lupa nginep dimana. Hehe…”

Aku speechless, memanglah tunanganku ini….

“Ya udah titip cubitin ya Ka, bilang awas kalo ketemu!!”
“OK Mbak…orangnya mah udah bikin pulau tuh di depanku. Hehe…”
“Ya udah, makasih ya Ka…”
“Yo…” Arka menutup telponnya.

Bhaskaraaaaaaa…….awas kamu kalo ketemu… :(

pratigina, 2010

Read Full Post »

Aku baru saja menemukan sebuah cerita di sini.  Ceritanya sederhana, tapi wajib kamu baca. Seperti yang sering kukatakan, bahwa:

Langit dan laut tak hanya bertemu dalam hujan, tapi juga di garis horizon pantai..

^_^

Langit, 2 Februari 2010

Read Full Post »