Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Belajar Yuuk..’ Category

Sore kemarin, sambil iseng ngabuburit aku ambil Kitab Mutiara Riyadhushshalihin yang udah lama kuanggurin dari lemari. Walhasil aku buka bab terakhir yang sudah kutandai, dan aku langsung disajikan pada Bab-Bab yang banyak berkaitan dengan perempuan (hehe). Selintas aku mikir, mungkin Allah minta aku untuk belajar memahami wanita dengan lebih baik ya?hehe. Maklum, katanya kaum hawa aku ini laki-laki yang nyebelin, suka seenaknya, dll**under censored**.
Eniwei, aku mulai dengan Bab tentang Menyayangi Anak Yatim, Anak Perempuan, dan Orang yang lemah serta miskin. Pada bab ini, aku diingatkan kembali dengan satu hadith Imam Bukhari yang artinya demikian,

“ Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga dengan posisi begini (seraya Rasulullah mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya hampir berdempetan).

Waah, kalo inget hadith ini pengen rasanya cepet-cepet jadi orang kaya (pengennya..), supaya bisa ngasih mereka lebih banyak. Kalo sekarang mah paling ngasi yang minta-minta serebu-serebu aja,yaah yg penting mah istiqomah dan ikhlasnya yah (alesan). Baru aja ngayal bayangin lg ngasi anak yarim orang miskin tiba-tiba aku disajikan dengan hadith lain dari Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang orang miskin.

Bahwasanya “Bukanlah (yang disebut) orang miskin itu orang yang berkeliling ke sesama manusia karena tergiur satu-dua biji kurma, atau satu dan dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta untuk mencukupi keperluannya dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk mengharapkan sedekah serta tidak pernah berjalan untuk meminta-minta pada orang lain”.

Subhanallah, betapa mulia Islam mengajarkan penganutnya untuk tetap mempertahankan harga dirinya. Adakalanya yang sudah berkecukupan pun masih saja mengemis harta, dengan cara yang pastinya berbeda dengan orang-orang miskin. Dari hadith ini, aku memahami satu hal bahwa Allah tidak ingin hamba-hambaNya mengemis kepada sesama hamba, Ia menginginkan kita hanya mengemis kepadaNya, ya, kepada yang Maha Kaya, yang Maha Memiliki Segala. Wallahu muwaffiq,

Sahabat, hadith selanjutnya makin membuatku tersentak, karena mungkin isinya menyinggung rencana yang sudah kupersiapkan akhir-akhir waktu ini. Beginilah Rasulullah bersabda,

“Makanan terburuk adalah makanan walimah (pesta) dimana orang yang memerlukan makanan itu tidak diundang dan orang yang tidak memerlukannya malah diundang. Barang siapa yang tidak memenuhi undangan walimah, maka dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Diriwayatkan Imam Muslim)

Pesan yang aku terima setelah membaca hadith ini adalah, bahwa Allah, menginginkan kita untuk senantiasa memuliakan orang miskin, hingga di saat-saat bahagia kita, misalnya saat mengadakan pesta walimah, Allah memerintahkan kita untuk turut mengundang saudara-saudara kita yang membutuhkan, bukan hanya kerabat dan kolega kita. Masya Allah..Serasa ditampar babon **tiba-tiba puyeng**

Well, cerita tentang perempuannya belum ada yak..hehe setelah dicari-cari disinilah baru ketemu hadithnya. Satu hadith terakhir dari bab ini yang menurut saya cukup unik dan ingin saya share adalah hadith riwayat Bukhari-Muslim berikut:

‘Barang siapa yang mengasuh dua anak perempuannya hingga dewasa, maka pada hari kiamat kelak aku akan bersama orang itu bagaikan dua jemari ini” (Seraya Rasul merapatkan kedua jarinya).

Tau apa yang langsung terlintas dalam fikiranku?hehe **jadi pengen malu**. Aku mikir gini “wah untung banget ya Pak Narto dan Bu Narto (camer), anak mereka dua-duanya perempuan, yang satu masih ABG yang ga neko-neko amat, yang satu lagi udah ketauan shalihahnya ^_^.

Kalau boleh menganalisa, menurutku hadith ini tidak terlepas kait dengan kebiasaan adat arab zaman jahiliyyah dahulu yang membunuh anak-anak perempuan mereka karena dianggap membawa sial bagi keluarga. Kejam banget ya, atas dasar apakah mereka dibunuh? Atas perbuatan keji ini Allah telah mengutuk perbuatan kaum jahiliyyah dalam Surah At-Takwir 8-9, yakni ketika kiamat menjelang, maka anak-anak perempuan itu pun dipertanyakan, atas dasar apa mereka dibunuh? Na’udzubillah, mari berlindung kepada Allah dari perbuatan keji ini.

Tapi, fikir punya fikir, sebetulnya bukan tanpa alasan bahwasanya kaum hawa ini dianggap membawa kesulitan, karena fitrahnya, dari sononya, wanita memang makhluk yang sangat unik. Yang dalam memperlakukan mereka, perlu pemahaman yang baik. Bersabda Rasul, sebagaimana dituturkan Imam Bukhari dan Muslim,

“Berpesan-pesan baiklah kalian terhadap kaum perempuan. (Ini) karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Karena itu, jika engkau memaksa dalam meluruskannya, maka akan hancurlah ia. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan bengkok selamanya. Karenanya, berpesan-pesan baiklah terhadap perempuan.”

Inti hadith ini menurutku adalah, dalam mengajak perempuan pada kebaikan dengan cara paksa justru akan menghancurkannya. Nah mungkin dampak lebih detilnya bisa ditanyakan pada psikolog yak..Tapi jika kita tetap membiarkannya, dalam hadith lain dikatakan “hanya ingin bersenang-senang dengannya, maka engkau akan puas, namun niscaya mereka akan tetap bengkok.” . Perihal ini, aku jadi teringat pesan ustadzku waktu masih mondok di pesantren,

”wanita itu ibarat pasir, jika kau genggam ia terlalu erat pasir itu akan berhamburan, begitupun jika kau lepaskan genggamanmu, berhamburan jua ia”.

Subhanallah..complicated juga makhluq Allah yang satu ini yah. Tapi gimana lagi, laki-laki memang membutuhkan satu rusuknya itu kembali utuh dalam dirinya. Well, next aku akan cerita-cerita lagi tentang bagaimana perjalanan mencari “rusuk emas” ini, lalu bagaimana setelah ia kembali utuh dalam diri kita.
Semoga hasil keisengan ini bermanfaat.

Salam.

Iklan

Read Full Post »

Stress - andyhakiem.wordpress.com

Yah, akhirnya aq memutuskan untuk menulis artikel ini, kenapa? ya pengen aja.. Berhubung aq dan teman-teman memang sudah ada di usia awam orang menikah, jadi mudah-mudahan artikel ini berguna. Sekalian menanggapi beberapa hal yang mungkin juga dialami orang-orang yang awam di masa-masa persiapan pernikahan. Hasil membaca di beberapa artikel ditambah nasihat dan curhatan teman-teman yang juga pernah dan sedang berada di posisi persiapan pernikahan, masa ini merupakan masa yang sensitif dan cenderung menyebabkan stress, apalagi kalau tipe orangnya susah dibawa nyantai. Konflik-konflik antara kita dan calon suami kadang terjadi hanya karena masalah sepele.

1. Kapan akan menikah? Kapan akad? Kapan resepsi?

Sesaat setelah terbang melayang karena datang pertanyaan “would you marry me” dari sang pujaan hati, maka akan muncullah serentetan pertanyaan lanjutan, tentang kapan? Sebagaimana pemuda usia 20-30an yang sedang senang-senangnya menikmati dan merencanakan kehidupan, setiap kita pasti punya plan hidup masing-masing. Dan mungkin jaaauh sebelum lamaran itu datang, kita sudah merencanakan, kapan harus pindah kerja, kapan harus menikah, kapan harus punya anak, kapan harus kuliah lagi, dan serentetan perencanaan hidup yang mungkin akan terusik dengan satu kalimat “would you marry me”.

Hei, tapi apakah benar kata itu merusak plan kita? Hm, jangan panik dulu, semuanya kan bisa dikomunikasikan. Sebelum bernegosiasi untuk menyesuaikan plan hidup masing-masing, kenali dulu seperti apa siy calon pasangan kita? Apa dia punya prinsip-prinsip khusus yang gak bisa dilanggar? Misalnya ada beberapa tipe suami yang tidak memperbolehkan istrinya bekerja, atau suami yang ingin istrinya selalu ada disisinya dan berbagai macam tipe lainnya yang mungkin akan membuat negosiasi menjadi alot, kudu sabar dan cari pilihan kata yang baik kalo begini mah.. 🙂

Sebelumnya tekankan dulu dalam fikiran kita, kita sedang ingin berkompromi tentang plan hidup, jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak, harus ada hal-hal yang dikorbankan antara kita dan dia, tujuan utamanya itu adalah mencapai kondisi ideal dimana hal yang saling kita korbankan menjadi minimal, ditambah saran-saran yang solutif dari kita. Misalkan saja, sejak tahun lalu sebelum berencana untuk menikah, aq sudah berencana bahwa tahun ini aq harus kuliah lagi. Tapi karena aq juga mungkin kerja, maka aq harus mengambil perkuliahan di malam hari atau weekend. Hal ini cukup berat karena pastinya, aq tidak bisa terus mendampingi calon suami yang kadang hanya available saat weekend, aq harus saving untuk biaya kuliah, dan mungkin  calon suami juga pengen, tapi belom bisa karena kondisi pekerjaan yang belom stabil. Akhirnya dengan berkomunikasi lagi,  kita sepakat untuk gantian, karena bagaimanapun menuntut ilmu selama masih bisa itu penting. Jadi kalau aq udah selesai S2 dan dia sudah mulai stabil kondisi pekerjaanya dia yang gantian ambil S2. Setelah selesai S2 mungkin aq bisa cari kerjaan yang lebih stabil dan fokus ngurus rumah tangga. 🙂

Selain masalah plan hidup yang berubah, masalah ‘kapan’ akan dipengaruhi juga oleh kesiapan kita dan calon suami dalam segi finansial (kalo mau resepsi yang lumayan gede), dan kesiapan mental orang tua dan calon mertua kita. Secara psikologis, mungkin sesaat setelah mengatakan “Yes, I will”, kita telah dalam kondisi siap untuk menikah. Tapi bagaimana dengan orang tua? Jika selama ini kita telah berkomunikasi dengan baik tentang rencana kapan kira-kira kita akan menikah, mungkin orang tua tidak akan kaget dan telah menyiapkan diri untuk menerima anggota keluarga yang baru. Tapi kalau maen slonong boy aja tiba-tiba bilang, “Ma, Pa, aku dilamar, bulan depan aku nikah ya?” bisa-bisa sakit jantung tuh orangtua kita. Kalo kata calon suamiku, kepercayaan orang tua akan kesiapan anaknya untuk menikah, selain dilihat dari segi finansial juga dari segi kaya apa sih calon istri atau calon suami anakku, jangan-jangan masih childish dan rombongan alay gitu.. 😆 Nah, penilaian kesiapan anak ini yang biasanya jadi pertimbangan si orang tua untuk memberikan restu sama si anak. Kalo dilihat masih alay-alay dan gak meyakinkan gitu paling juga dibilang, “tar lah setahun lagi aja, kamu ngsms aja masih susah dibacanya” 😆

Ada lagi niy kasus yang unik, mungkin hanya terjadi di Indonesia. Masih ada orang tua yang pengen anaknya nikahnya di tanggal atau hari baik, yang dicarinya susah, mesti pake hitung-hitungan gitu. Kalo gak nemu tanggalnya tahun ini, ya kamu nikahnya tahun depan, kalo gak nemu lagi ya tahun depannya lagi.. Haaaah…susah amat ya mau nikah aja.. **suara hati si anak** Nah, untuk kasus kaya gini, butuh pendekatan yang ekstraaaaa sama orang tua/calon mertua kita. Bagaimanapun menikah itu kan menggabungkan dua keluarga, bukan cuma urusan kita dan calon suami saja. Kita juga membawa nama keluarga kita, jadi segala macam masalah kaya gini harus diselesaikan, jangan dibiarkan atau parah-parahnya kita bersikap frontal dan malah menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Solusinya, pahamkan dulu masalah dasar penentuan hari pernikahan. Harusnya yang lebih diperhatikan untuk menjadi dasar penentuannya adalah masalah availabilitas kedua keluarga, dan keadaan finansial (jika ingin resepsi). Kalo dapet hari baik (yang entah gimana ngitungnya) tapi calon suami kita harus pergi keluar kota atau itu waktu hectic-hectinya kerjaan sehingga kita atau orang tua susah cuti kan jadi gak maksimal juga nanti acaranya. Pahamkan juga kalau, menurut pandangan islam, lebih baik menyegerakan pernikahan jika sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak, seperti hadits Rasulullah SAW:

“Tiga hal yang tidak boleh diperlambat: sholat bila sudah waktunya, jenazah bila sudah didatangkan, dan gadis bila sudah menemukan calon suami yang sekufu.” (HR At-Tirmidzi)


2. Uangnya Cuma Ada Segini..

Ini masalah basic yang hampir dialami semua calon pengantin, apalagi yang usianya masih 20an dan belum begitu mapan. Belajar dari pengalaman, beberapa kasus pernikahan yang pernah aq konsultasikan dengan mama terbentur pada masalah pembiayaan pernikahan. Sebagian orang mungkin bisa dengan santai bilang, tenang aja masih bisa pinjem kok. Tapi..hei..hei… masa hidup baruku dimulai dengan hutang, naudzubillah. Jadi mama sejak awal tegas sama aq kalau misalnya memang ada adakan resepsi, kalau enggak ya gak usah. Seadanya aja, kan walimah itu sunnah, yang wajib toh akadnya. Tapi mungkin gak semua orang tua beranggapan seperti itu. Dalam beberapa kasus, orang tua tetap ingin mengadakan resepsi pernikahan anaknya, dengan pertimbangan pride dan silaturahim terhadap saudara dan tetangga. Hal ini harus kita pahami juga, sebisa mungkin, selama masih bisa dipenuhi dan tidak melanggar hukum ya kenapa enggak. Mudah-mudahan kita bisa dapet pahala sunnahnya 🙂

Masalah pembiayaan resepsi menurut survei akan menghabiskan sekitar 70% dari proses pernikahan itu sendiri. Jadi, karena judulnya adalah dana terbatas, maka kita harus pintar-pintar niy memanage pengeluaran yang honestly suka gak sadar dipake buat apa aja. Caranya ya dengan mempersiapkan dengan baik rencana resepsi pernikahan kita. Hal yang harus dianalisis di awal perencanaan adalah, kira-kira pos apa yang akan memakan biaya paling besar dalam rencana pernikahan kita.

Kalau jarak antara rumah kita dan calon suami cukup jauh, biaya transportasi akan menjadi hal yang costing. Kalau peserta yang mau ikut ke acara walimah gak bisa dikurangi berarti cara lainnya adalah kita harus pilih waktu yang efektif untuk mengurangi biaya transportasi ini. Misalnya menunggu saat yang tepat untuk dapat membeli tiket pesawat economy promo (kadang harus sabar biar dapet yang bener-bener murah, mungkin nanti bisa dishare deh tips-tips mencari pesawat murah :))

Selanjutnya pos yang akan memakan banyak biaya adalah resepsi itu sendiri. Setelah menentukan tanggal pernikahan, coba cek dulu kira-kira sampai H-1 bulan ada berapa saldo di rekening kalian. Usahakan untuk hanya menggunakan sekitar 80-85% dana yang ada (kalo bisa sisakan lebih banyak). Sisakan untuk keperluan mendadak atau kebutuhan pasca pernikahan yang udah pasti makin banyak, seperti sewa rumah, isi rumah dan lain sebagainya.

Dengan perkiraan dana yang ada, coba cari informasi Wedding Organizer setempat tempat kamu akan melaksanakan resepsi. Sebelumnya pikirkan dulu kamu mau mengadakan resepsi di rumah atau di gedung, dengan pertimbangan kondisi rumah dan fisik serta psikologis orang tua. Kalau orang tua sudah tua dan kondisi rumah sepertinya tidak memungkinkan untuk pesta, sebaiknya pesta di gedung mungkin lebih baik. Secara umum, pesta di gedung akan memakan biaya lebih mahal, namun efek lelah (apalagi jika keluarga calon suami/istri kita datang dari tempat yang jauh) bisa direduksi. Selanjutnya bisa disimulasikan deh, hasil survei ke beberapa wedding organizer versus kamu dan teman-temanmu sendiri yang menjadi WO. Lihat plus minus dan kesesuaiannya sama budget. Tips lain adalah, kurangi pengeluaran-pengeluaran yang gak terlalu urgent seperti masalah baju pernikahan, seserahan, percetakan undangan atau souvenir dan lain sebagainya. Kegiatan survei harga untuk masalah undangan dan souvenir mungkin akan melelahkan, tapi demi mengurangi pengeluaran, hal ini kudu dilakukan. Setelah survei dilakukan, nah sesuaikanlah dengan budget, kalau memang ingin mendapatkan undangan yang lebih bagus/mahal dengan budget yang sama mungkin jumlah undangan fisik yang dicetak bisa dikurangi, sebagai gantinya bisa digunakan undangan elektronik atau announcement via email/facebook.

Masalah selanjutnya adalah hidup setelah menikah, beberapa teman mengaku stress memikirkan bagaimana bisa hidup berdua dengan suami setelah tau pendapatan per bulan si suami, apalagi jika si calon suami melarang si calon istri untuk bekerja setelah menikah. Hey..hey.. calon ibu-ibu…itulah fungsinya kita sebagai seorang istri, mendisiplinkan pengeluaran kita dan suami, untuk bisa hidup lebih baik. Kuncinya mungkin, banyak-banyak bersyukur, manajemen pengeluaran yang baik, kurangi atau hindari hutang, usahakan walaupun sedikit tetap menabung, dan jangan lupa bayar zakat :D, karena dengan mengeluarkan hak orang lain dari pendapatan kita, harta kita insya Allah akan lebih berkah.

Jika dengan amat sangat harus berhutang, ukur dulu pengeluaran pasca pernikahan, dan lihat berapa uang yang bisa kita sisihkan untuk melunasi hutang tersebut dalam jangka waktu tertentu. Tapi semua orang juga pasti tidak mau berlama-lama punya hutang, apalagi jika setelah menikah harus membayar KPR, dan biaya-biaya lain. Jika misalnya kita hanya bisa menyisihkan 30% dari gaji untuk membayar hutang dan kita ingin hutang tersebut segera lunas maksimal 3 sampai 6 bulan pasca pernikahan. Maka maksimum hutang yang masih rasional kita ambil adalah sekitar 20-25% x 5 bulan gaji. Sebisa mungkin jangan menghabiskan semua uang gaji kita 6 bulan ke depan hanya untuk resepsi satu hari. Waduh, aq dah kaya financial consultant aja niy, heu2…. banyakan teori yah, tapi mudah-mudahan berhasil deh..

Ayo mulai hidup baru kita tanpa berhutang 😉 #kampanyeantihutang


3. Kok kayanya aku terus siy yang riweuh

“Aq capek tau! kayanya aq terus yang ribet, kamunya tenang-tenang aja”

Waaah, pernah pengen tereak kaya gitu? wajar siy, apalagi kalo lagi menstruasi, hehe. Jujur aja, masalah persiapan pernikahan itu gak simpel, bener-bener diuji kesabaran abis-abisan deh. Secara psikologis, otak wanita itu memang lebih ribeeet daripada kaum lelaki, jadi wajar kalau para wanita ini mikirin sesuatu lebih ribet daripada cowok.

Misalnya aja waktu milih undangan, test food atau seserahan, mungkin si cowok lebih prefer mikir, uang ada berapa, butuh berapa banyak, ada percetakan yang harganya segitu, ya udah. Tapi mungkin kalo cewek mikir lebih ribet, kaya aq pengen undangannya warna ini biar senada sama warna kebaya aq, terus pengennya harganya yang segini, kalau bisa lebih murah, jadilah survei kesana-kesini yang mungkin buat cowok hal kaya gitu itu ribet.

Solusinya, bikin timeline dan bagi jobdesk. Pisahkan tugas yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri dan yang harus dikerjakan berdua. Misalnya untuk pesan undangan dan souvenir, karena cewek lebih pemilih dan keberadaan cowok gak begitu berati, mungkin lebih baik kalau diserahkan aja sama cewek biar lebih puas milihnya. Untuk urusan logistik acara, susunan acara, koordinasi dengan pengisi acara dan lobbying mungkin bisa dilakukan oleh cowok. Tapi, walaupun dikerjakan sendiri-sendiri, sebisa mungkin tetap ada komunikasi walapun cuma sekedar pemberitahuan. Karena udah sepakat saling percaya sama hasil tugas yang dibagi jangan terlalu mengusik tugas yang lain, nanti kalau ada masalah, baru dipikirin sama-sama solusinya.

Tapi yang paling penting dari semuanya adalah rasa percaya dan ikhlas. Ketika hendak menikah, memangnya apa yang kita inginkan? tentu saja keharmonisan rumah tangga kan? Jika tidak dimulai dari sekarang, yang mungkin hanya masalah-masalah kecil, bagaimana kita menghadapi permasalahan rumah tangga yang mungkin lebih kompleks dari saat ini. Secara umum laki-laki itu lebih logis dan egois, jadi gak ada salahnya kita mengalah dan membicarakan semuanya kembali dengan fikiran yang jernih. Kalau ada masalah karena sensitifitas kita, ya  harus secepatnya kita sadari.

Buat para cowok juga, secara umum cewek itu lebih sensitif, jadi di masa-masa persiapan pernikahan ini cobalah beri perhatian yang lebih, mungkin satu atau dua sms sehari yang menanyakan kabar cukup untuk menenangkan hati si calon istri. Karena kebanyakan kasus di masa-masa ini wanita akan semakin sering meragukan si calon suami. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa bener aq harus nikah sama dia”,Apa nanti aq bisa hidup sama dia”, “Apa bener dia cinta sama aq, selalu aq duluan yang sms” dan banyak pertanyaan-pertanyaan meragukan lainnya. Salah satu penyakit kronis wanita itu adalah, senang bertanya pertanyaan yang menyakiti diri sendiri, seperti pertanyaan di atas itu, hehe…

Waaah, panjang sekali postinganq kali ini…mudah-mudahan berguna, dan kalau ada salah-salah kata dan saran, silahkan dikritisi dan mari berdiskusi, karena aq juga belum benar-benar melewati masa ini… hehe….

Sekarang cukup sekian dulu, berhubung sudah malam, perut keroncongan, harus segera tidur atau aq akan melahap semua yang ada, haha… 🙂

Buitenzorg, 27 Mei 2010

pratigina © 2010

Read Full Post »

Pernah ngobrol dengan mbak-mbak dan mama tentang perlunya melakukan cek kesehatan sebelum menikah, tapi seberapa urgen siy? Kalu baca-baca dari artikel siy sebenernya urgen, karena kita kan gak pernah tau apakah kita punya penyakit yang bisa mempengaruhi kehamilan, atau bahkan penyakit menular seks (naudzubillah). Berhubung saya ini orang yang sangat malas disuruh ke dokter, jadilah saya juga malas melakukan tes kesehatan ini (Tapi aq sempat mengajak calon suamiku loh… cuma mau bagaimana lagi, bertemu saja sulit :()

Kalau berdasarkan informasi mama siy, biasanya ketika mendaftar ke KUA untuk menikah, zaman dulu siy akan ada petugas yang datang untuk suntik TT (Imunisasi Tetanus gitu deh). Tapi kalo sekarang katanya cuma akan dikasih rekomendasi kliniknya aja. Setelah baca lagi di salah satu artikel, suntik TT ini berguna untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir. Selain imunisasi TT, berdasarkan artikel dari tempo, beberapa imunisasi yang harusnya juga dilakukan sebelum menikah antara lain adalah:

  • Hepatitis B
  • Rubela
  • Herpes, dan
  • Human papillomavirus

Atau untuk lebih jelasnya bisa juga dibaca di sini. Lanjut lagi, kalau dari salah satu artikel di Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia, idealnya tes kesehatan pra nikah dilakukan enam bulan sebelum dilakukan pernikahan.  Tes kesehatan pra nikah dapat dilakukan kapanpun selama pernikahan belum berlangsung.  Jika pada saat pengecekan ternyata ditemui ada masalah maka pengobatan dapat dilakukan setelah menikah. Nah looooh….udah tinggal sebulan lagi tau.. **rada panik mode ON**.

Solusinya gimana dunk? Yah, sekali waktu aq menyempatkan untuk menanyakan dengan detil penyakit yang diderita calon suamiku dan penyakitku. Begitu juga penyakit yang diderita kedua orang tua kita, karena mungkin ada penyakit bawaan. Jadi secara umum, kita udah sama-sama tau tentang historis penyakit yang kita derita (dan mudah-mudahan gak ada penambahan data historis di masa depan atas jenis penyakitnya).

Solusi tambahannya mari mulai hidup sehat, istirahat yang cukup, makan yang cukup, sayangi tubuh dan olahraga (duuuh semuanya hal yang sangat sulit dimulai lagi). Demi keharmonisan rumah tangga dan calon anakku, kenapa enggak..heuheu… 😉

Read Full Post »

Wah, dah lama gak diupdate yah, maaf kalo ada calon-calon pengantin yang menanti-nanti mau belajar dan berbagi (GR gitu… :wink:). Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman yang juga hendak menikah, ternyata memang finansial merupakan salah satu masalah pokok yang sering menjadi konsen seseorang (terutama keluarga wanita). Padahal Allah SWT udah bilang via Al Quran,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya), Maha Mengetahui” (Q.S. An Nuur : 32)

Kurang jaminan apa lagi coba, heu…

Seperti tulisan atas pengalaman mas ini janji Allah itu memang benar, hanya saja mungkin kita kadang gak paham karena bentuknya yang abstrak. Pada artikel ini juga dijelaskan penelitian yang menguatkan kebenaran ayat Al Qur’an tersebut. Ditambah lagi setelah membaca blog seorang teman tentang penyebab-penyebab utama retaknya hubungan pernikahan, jadi pengen share beberapa artikel dari wolipop.com,. Mudah-mudahan berguna yaks..

Nasihat Finansial Bagi Pengantin Baru

Jakarta – Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya masalah pengaturan keuangan sering menjadi duri di sebuah pernikahan, terutama bagi pasangan yang baru menikah. Ada baiknya untuk merencanakan masalah keuangan dengan matang agar tak menjadi masalah di belakang.

Berikut beberapa tips keuangan yang bisa dilakukan oleh para pengantin baru.

Jangan Rahasiakan Masalah Keuangan
Merahasiakan pendapatan serta pengeluaran adalah kesalahan awal yang akan berdampak buruk bagi kelangsungan hubungan. Ketika melangkah ke jenjang pernikahan, berarti bukan waktunya Anda mengatur hidup sendiri. Kini semua harus dibicarakan dengan pasangan, walaupun Anda memiliki penghasilan sendiri.

Akun Pribadi atau Bersama
Tentukan bagaimana Anda menyimpan uang bersama. Anda bisa tetap menyimpannya di akun pribadi atau membuat akun baru atas nama berdua. Bicarakan dengan baik untuk memutuskan hal tersebut dengan pasangan.

Buat Budgeting Bulanan
Bicarakan dengan baik perencanaan pengeluaran Anda dan pasangan. Setelah berkeluarga, tentunya ada perbedaan pengeluaran bagi Anda dan suami. Jika biasanya Anda menghabiskan gaji untuk baju dan sepatu, setelah menikah mungkin harus ada kebiasaan yang berubah.

Pertangungjawaban Pengeluaran

Di akhir bulan, biasakan membuat pertanggungjawaban bulanan keuangan. Dari catatan, Anda bisa melihat apa kekurangan dan kelebihan perencanaan keuangan.

Tambahan informasi dari artikel terkait:

Atasi Keretakan Pernikahan Karena Masalah Finansial

Jakarta – Sebuah penelitian membuktikan bahwa kebanyakan penyebab pasangan berkelahi dikarenakan masalah keuangan, bukan orang ketiga. Menyatukan visi dan misi masalah finansial di awal pernikahan memang bukan hal yang mudah.

Anda dan pasangan hadir dari dua latar belakang yang berbeda. Cara keluarga menghabiskan uang pun bisa jadi bertolak belakang. Di awal pernikahan, seringkali hal itu menjadi bahan pertengkaran.

Namun Anda harus siap menghadapinya. Semua hal bisa dikompromikan, asal komunikasi tetap terjaga. Berikut beberapa langkah yang bisa menyelesaikan pertengkaran akibat masalah keuangan.

1. Hargai latar belakang pasangan. Bisa jadi Anda dibesarkan dalam keluarga yang lebih boros. Semua keluarga biasa memakai barang-barang berkualitas terbaik. Sebaliknya pasangan Anda dari keluarga yang sangat perhitungan.

Ketimbang memperdebatkan perbedaan yang ada, lebih baik cari jalan tengahnya. Setiap cara pasti memiliki sisi positif dan negatif. Misalnya Anda bisa memakai cara keluarga dalam memilih perawatan dan sekolah si kecil, sehingga ia mendapatkan yang terbaik.

Sedangkan dalam berbelanja Anda bisa mengadaptasi cara keluarga suami yang penuh perhitungan sehingga terhindar dari kebiasaan boros.

2. Saat membicarakan masalah uang, jangan merembet ke hal-hal yang lain. Masalah keuangan dan kurangnya perhatian suami adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Jangan biarkan pertengkaran Anda menyinggung ke arah yang lebih jauh dan besar.

3. Jangan takut mengemukakan pendapat dan rencana keuangan versi Anda. Jangan memendam hal-hal yang nantinya hanya akan memperburuk keadaan rumah tangga Anda. Siapa tahu rencana keuangan Anda bisa menyempurnakan yang dibuat pasangan.

Read Full Post »

Mulai dari sini, kita belajar gimana siy istri yang shalehah itu? Tapi sebelum masuk ke topiknya, ada catatan niy dari penulis (Isham bin Muhammad Asy Syarif)

  1. Bukan berarti istri yang tidak memiliki semua dari kedua puluh karakter istri shalehah yang akan disebutkan tidak shalehah. Maksud dari semua karakter itu adalah tingkatan yang sempurna dari istri shalehah yang insya Allah bisa dicapai oleh semua istri. Dengan demikian istri harus melengkapi dirinya dengan syarat itu sesuai kemampuannya meskipun sulit. Terutama karakteristik-karakteristik yang wajib seperti taat pada suami dalam hal yang tidak tergolong maksiat, karena itu termasuk diantara karakteristik yang tidak boleh ditinggalkan ataupun disepelekan oleh seorang muslimah.
  2. Hendaknya seseorang tidak mengatakan bahwa tidak ada istri shalehah dengan semua karakter yang ada di dalam buku ini, meskipun sangat sulit untuk dipenuhi.
  3. Agar suami tidak menuntut istrinya sepanjang waktu dengan berkata, “Kamu harus begini dan begitu”, dan “Mengapa kamu tidak melaksanakan karakter istri shalehah yang ini?” Maka saya menulis tentang karakteristik suami shaleh pada akhir buku ini. Supaya tidak hanya istri yang menjadi objek dalam masalah ini tanpa ada seorang pun yang membalanya, agar gambaran dalam buku ini menjadi sempurna dan hak-haknya menjadi setara.

So, jangan khawatir…karakteristik yang digambarkan disini merupakan karakteristik ideal yang harus dicapai sekuat tenaga (halah…) oleh seorang istri, mudah-mudahan dengan niat yang benar kita dipermudah buat belajar ya.. 😉

Ayo masuk ke santapan utamanya… 🙂

Karakteristik Pertama:

Istri yang shalehah selalu konsisten menjalankan agama Allah lahir dan bathin, tanpa ragu, malas ataupun nafsu. Tidak ada masalah antara dirinya dengan sang suami dalam hal ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul SAW. Senantiasa menjalankan syariat, menjauhi larangan-Nya. Dia adalah istri yang sangat komitmen dan penuh kesadaran

۞ Be A Great Wife, Karakteristik Istri Shalehah [hlm. 19]۞

Nabi bersabda,

“Perempuan dinikahi karena empat hal: Hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu beruntung” (H.R Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits tersebutlah makanya, sang penulis mengungkapkan kalo perempuan yang beragama merupakan karakter utama istri shalehah. Seperti yang juga dituangkan dalam hadits:

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah”. (H.R Muslim)

[Alasan]
Beberapa alasan kenapa wanita yang beragama merupakan karakteristik dasar istri shalehah:

  • Istri yang beragama merupakan perhiasan dunia (seperti hadits di atas)
  • Istri yang beragama akan membantu suami dalam bidang agamanya

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Siapa saja yang dikaruniai seorang istri yang shalehah oleh Allah, maka ia telah menolongnya dalam separuh agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang lain.” (HR Al Hakim)

Waaah…beruntungnya laki-laki itu… 😀


  • Istri yang beragama adalah karunia terbaik yang diperoleh seseorang setelah ketakwaan kepada Allah

Diriwayatkan dari Tsauban RA, dia berkata, “Ketika turun ayat. ‘Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.’ (Q.S. At Taubah [9] : 34) Kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan jauh. Lantas seorang sahabat bertanya, ‘Ayat itu turun mengenai emas dan perak, seandainya kami mengetahui apa harta yang paling baik?’ Rasulullah SAW menjawab,

“Harta yang paling baik adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur dan seorang istri yang beriman yang menolong dalam keimanannya.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi)

Semoga nanti juga bisa menjadi salah satu harta yang paling baik itu 😳

  • Istri yang beragama menolong suami dalam mentaati Allah SWT dalam urusan-urusan akhirat

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun malam lalu mendirikan sholat kemudian membangunkan istrinya sehingga turut mendirikan sholat. Jika si istri menolak, dia memercikan air ke wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu mendirikan sholat kemudian membangunkan suaminya hingga turut mendirikan sholat. Jika suaminya menolak, ia memercikan air ke wajahnya.” (H.R Bukhari)

dan juga selalu saling menasihati dalam ibadah wajib tentunya ya.. 😀

  • Istri yang beragama akan melahirkan anak saleh yang bermanfaat di dunia dan akhirat

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Apabila anak Adam meninggal, amalannya terputus kecuali tiga hal, ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir pahalanya dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

  • Istri yang beragama dapat mewujudkan unsur-unsur kebahagiaan rumah tangga bagi sang suami

Rasulullah SAW ditanya, “Istri bagaimanakah yang terbaik?”

Beliau menjawab,

“Yang membuat suami senang apabila melihatnya, menaati suami apabila menyuruhnya dan tidak menentang dengan cara melakukan tindakan yang tidak disukai suaminya menyangkut diri dan hartanya.” (HR An Nasa’i)

[Persepsi Keliru]

Hm, ini adalah catatan tambahan dari penulis yang menurut aq layak dikasih perhatian lebih, khususnya buat para lelaki yang sudah punya pujaan hati tapi merasa si pujaan hati masih belum cukup taaruf sama Allahnya dan buat perempuan-perempuan yang merasa belum cukup ilmu agamanya (kayanya gak pernah ada kata cukup buat ilmu) 😀

Iblis merasuki seorang pemuda dengan membawa persepsi keliru, yakni agar memperhatikan gadis cantik yang tidak beragama. Lalu kecantikannya menarik pemuda itu untuk melamarnya dengan tekad akan mengajaknya untuk taat beragama. Dia larut dengan anggapan bahwa gadis cantik memiliki banyak kebaikan.

Saya peringatkan bahwa persepsi ini tidak aman dan tidak menjamin sama sekali. Tidakkah Anda berfikir bahwa dia akan merusak agama Anda dan menjauhkan Anda darinya? Apa yang Anda lakukan seandainya Anda gagal mencapai tujuan? Jika kita menyaksikan berbagai contoh aktualnya, lihat batapa para suami malang itu hanya bisa mendulang kegagalan belaka. Pada akhirnya pilihan yang tersisa bagi mereka hanyalah antara bersabar dalam menganggung kerugian besar itu atau mengakhiri semua dengan perceraian.

Banyak pengalaman serupa yang terjadi, contohnya:

Perempuan A: Setelah berjanji kepada suami untuk komitmen berjilbab dan senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu, ternayta ia justru disibukkan oleh berbagai kegiatan luar di luar rumah dengan pakaian dan perhiasan mencolok.

Perempuan B: Setelah menikah, ambisinya untuk beragama justru semakin melemah, pada akhirnya ia hanya menjadi perempuan biasa yang hanya mencari kedudukan duniawi semata.

Perempuan lainnya justru hilang dari peredaran, tidak terlihat dan akhirnya terlupakan. Banyak sekali contoh lainnya sebagai akibat dari sikap buru-buru dalam pernikahan. Maka jangan tergesa-gesa wahai pemuda! Telitilah dalam menentukan pilihan, karena pernikahan bukan urusan sepele.

Gyaaah, saia langsung beristighfar membacanya. Semoga, jikapun saia ini kekurangan agama, saia tidak menjerumuskan laki-laki manapun ke neraka karena perbuatan saia. Bismillah, semoga menjadi motivasi untuk terus belajar agama dan menjadi lebih baik. :cry:

Read Full Post »

Karakteristik istri ideal? hoo… gimana itu? Dalam bait mukadimah di buku Be a Great Wife, karangan ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif, terdapat tulisan seorang cendikiawan yang sangat indah tentang istri ideal, yaitu:

Dia senantiasa memperhatikan kekurangan diri dan memikirkan agamanya serta menghadap Tuhannya. Suaranya dipelankan, lebih banyak diam, sikapnya lembut, lidahnya terjaga, sangat pemalu, amat berhati-hati, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang buruk, lapang dada dan penyabar, Dia sedikit sekali melakukan tipu muslihat, banyak bersyukur, menjaga kehormatannya, steril dari aib, penyayang, dermawan, rela, bersih, lembut, sangat baik, akhlaknya bagus dan budi pekertinya halus. Dia tidak pernah berbohong, bersih dari rasa kagum terhadap diri sendiri, meninggalkan semua hal yang kotor, bersikap zuhud terhadap dunia, tenang, tidak banyak bercanda, tidak mengumbar nafsu, jarang sekali bersiasat namun dapat diandalkan. Hatinya penuh belas kasih dan cintanya tulus. Jika dihardik ia menahan diri, dan jika diperintah ia taat. Dia membenci sikap enggan untuk berbuat baik. Dia tidak menyukai pemborosan dan membenci hal-hal makruh serta murka terhadap sikap angkuh. Dia merawat dirinya dengan wewangian khas wanita serta celak mata serta air. Dia puas dengan rezeki yang sekedar mencukupi. Dia menutup auratnya dengan cara menjaga diri, Dia sangat menyayangi keluarga, lembut terhadap suami, bersikap manja terhadapnya, memurnikan cinta kepadanya, tidak mempersulit dan mengalah demi urusannya. Dia lebih mengutamakan pendapat sang suami daripada pendapat pribadinya. Dia membiarkan sang suami memimpin dirinya. Dia menjaga rahasianya, melimpahkan sebesar-besar cinta kepadanya, dan lebih mementingkan suami dari ayah-bundanya sendiri. Dia tidak pernah menyinggung kekurangan atau membocorkan rahasianya. Dia memperbaiki urusannya, ikut bergembira dengannya, tidak membiarkannya sendirian dalam kesulitan dan kemiskinan tetapi justru menambah cintanya kepada sang suami disaat miskin. Dia menerima kemarahannya dengan kelembutan dan kesabaran, membuatnya senang sewaktu dia marah, menghindari kemurkaannya, waspada di saat sedang tidak bersamanya dan merasa senang dengan melihatnya. Dia adalah pendengaran, penglihatan dan hati bagi suaminya. Dia senantiasa berzikir, memahami ilmu Allah dan mengamalkannya. Dia jalankan semua perintah Allah sehingga dimuliakanlah ia.

۞ Be a Great Wife, Mukadimah hlm. 12-13 ۞

Hwaaah jadi malu, masih banyak banget kekurangan buat jadi istri shalehah ya… hayu..belajar lagi…
Semangat!! 😀


Read Full Post »

Beberapa hadits tentang pernikahan dari Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” Muttafaq Alaihi

Read Full Post »

Older Posts »