Feeds:
Pos
Komentar

Wah, dah lama gak diupdate yah, maaf kalo ada calon-calon pengantin yang menanti-nanti mau belajar dan berbagi (GR gitu… :wink:). Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman yang juga hendak menikah, ternyata memang finansial merupakan salah satu masalah pokok yang sering menjadi konsen seseorang (terutama keluarga wanita). Padahal Allah SWT udah bilang via Al Quran,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya), Maha Mengetahui” (Q.S. An Nuur : 32)

Kurang jaminan apa lagi coba, heu…

Seperti tulisan atas pengalaman mas ini janji Allah itu memang benar, hanya saja mungkin kita kadang gak paham karena bentuknya yang abstrak. Pada artikel ini juga dijelaskan penelitian yang menguatkan kebenaran ayat Al Qur’an tersebut. Ditambah lagi setelah membaca blog seorang teman tentang penyebab-penyebab utama retaknya hubungan pernikahan, jadi pengen share beberapa artikel dari wolipop.com,. Mudah-mudahan berguna yaks..

Nasihat Finansial Bagi Pengantin Baru

Jakarta – Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya masalah pengaturan keuangan sering menjadi duri di sebuah pernikahan, terutama bagi pasangan yang baru menikah. Ada baiknya untuk merencanakan masalah keuangan dengan matang agar tak menjadi masalah di belakang.

Berikut beberapa tips keuangan yang bisa dilakukan oleh para pengantin baru.

Jangan Rahasiakan Masalah Keuangan
Merahasiakan pendapatan serta pengeluaran adalah kesalahan awal yang akan berdampak buruk bagi kelangsungan hubungan. Ketika melangkah ke jenjang pernikahan, berarti bukan waktunya Anda mengatur hidup sendiri. Kini semua harus dibicarakan dengan pasangan, walaupun Anda memiliki penghasilan sendiri.

Akun Pribadi atau Bersama
Tentukan bagaimana Anda menyimpan uang bersama. Anda bisa tetap menyimpannya di akun pribadi atau membuat akun baru atas nama berdua. Bicarakan dengan baik untuk memutuskan hal tersebut dengan pasangan.

Buat Budgeting Bulanan
Bicarakan dengan baik perencanaan pengeluaran Anda dan pasangan. Setelah berkeluarga, tentunya ada perbedaan pengeluaran bagi Anda dan suami. Jika biasanya Anda menghabiskan gaji untuk baju dan sepatu, setelah menikah mungkin harus ada kebiasaan yang berubah.

Pertangungjawaban Pengeluaran

Di akhir bulan, biasakan membuat pertanggungjawaban bulanan keuangan. Dari catatan, Anda bisa melihat apa kekurangan dan kelebihan perencanaan keuangan.

Tambahan informasi dari artikel terkait:

Atasi Keretakan Pernikahan Karena Masalah Finansial

Jakarta – Sebuah penelitian membuktikan bahwa kebanyakan penyebab pasangan berkelahi dikarenakan masalah keuangan, bukan orang ketiga. Menyatukan visi dan misi masalah finansial di awal pernikahan memang bukan hal yang mudah.

Anda dan pasangan hadir dari dua latar belakang yang berbeda. Cara keluarga menghabiskan uang pun bisa jadi bertolak belakang. Di awal pernikahan, seringkali hal itu menjadi bahan pertengkaran.

Namun Anda harus siap menghadapinya. Semua hal bisa dikompromikan, asal komunikasi tetap terjaga. Berikut beberapa langkah yang bisa menyelesaikan pertengkaran akibat masalah keuangan.

1. Hargai latar belakang pasangan. Bisa jadi Anda dibesarkan dalam keluarga yang lebih boros. Semua keluarga biasa memakai barang-barang berkualitas terbaik. Sebaliknya pasangan Anda dari keluarga yang sangat perhitungan.

Ketimbang memperdebatkan perbedaan yang ada, lebih baik cari jalan tengahnya. Setiap cara pasti memiliki sisi positif dan negatif. Misalnya Anda bisa memakai cara keluarga dalam memilih perawatan dan sekolah si kecil, sehingga ia mendapatkan yang terbaik.

Sedangkan dalam berbelanja Anda bisa mengadaptasi cara keluarga suami yang penuh perhitungan sehingga terhindar dari kebiasaan boros.

2. Saat membicarakan masalah uang, jangan merembet ke hal-hal yang lain. Masalah keuangan dan kurangnya perhatian suami adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Jangan biarkan pertengkaran Anda menyinggung ke arah yang lebih jauh dan besar.

3. Jangan takut mengemukakan pendapat dan rencana keuangan versi Anda. Jangan memendam hal-hal yang nantinya hanya akan memperburuk keadaan rumah tangga Anda. Siapa tahu rencana keuangan Anda bisa menyempurnakan yang dibuat pasangan.

Iklan

Mulai dari sini, kita belajar gimana siy istri yang shalehah itu? Tapi sebelum masuk ke topiknya, ada catatan niy dari penulis (Isham bin Muhammad Asy Syarif)

  1. Bukan berarti istri yang tidak memiliki semua dari kedua puluh karakter istri shalehah yang akan disebutkan tidak shalehah. Maksud dari semua karakter itu adalah tingkatan yang sempurna dari istri shalehah yang insya Allah bisa dicapai oleh semua istri. Dengan demikian istri harus melengkapi dirinya dengan syarat itu sesuai kemampuannya meskipun sulit. Terutama karakteristik-karakteristik yang wajib seperti taat pada suami dalam hal yang tidak tergolong maksiat, karena itu termasuk diantara karakteristik yang tidak boleh ditinggalkan ataupun disepelekan oleh seorang muslimah.
  2. Hendaknya seseorang tidak mengatakan bahwa tidak ada istri shalehah dengan semua karakter yang ada di dalam buku ini, meskipun sangat sulit untuk dipenuhi.
  3. Agar suami tidak menuntut istrinya sepanjang waktu dengan berkata, “Kamu harus begini dan begitu”, dan “Mengapa kamu tidak melaksanakan karakter istri shalehah yang ini?” Maka saya menulis tentang karakteristik suami shaleh pada akhir buku ini. Supaya tidak hanya istri yang menjadi objek dalam masalah ini tanpa ada seorang pun yang membalanya, agar gambaran dalam buku ini menjadi sempurna dan hak-haknya menjadi setara.

So, jangan khawatir…karakteristik yang digambarkan disini merupakan karakteristik ideal yang harus dicapai sekuat tenaga (halah…) oleh seorang istri, mudah-mudahan dengan niat yang benar kita dipermudah buat belajar ya.. 😉

Ayo masuk ke santapan utamanya… 🙂

Karakteristik Pertama:

Istri yang shalehah selalu konsisten menjalankan agama Allah lahir dan bathin, tanpa ragu, malas ataupun nafsu. Tidak ada masalah antara dirinya dengan sang suami dalam hal ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul SAW. Senantiasa menjalankan syariat, menjauhi larangan-Nya. Dia adalah istri yang sangat komitmen dan penuh kesadaran

۞ Be A Great Wife, Karakteristik Istri Shalehah [hlm. 19]۞

Nabi bersabda,

“Perempuan dinikahi karena empat hal: Hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu beruntung” (H.R Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits tersebutlah makanya, sang penulis mengungkapkan kalo perempuan yang beragama merupakan karakter utama istri shalehah. Seperti yang juga dituangkan dalam hadits:

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah”. (H.R Muslim)

[Alasan]
Beberapa alasan kenapa wanita yang beragama merupakan karakteristik dasar istri shalehah:

  • Istri yang beragama merupakan perhiasan dunia (seperti hadits di atas)
  • Istri yang beragama akan membantu suami dalam bidang agamanya

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Siapa saja yang dikaruniai seorang istri yang shalehah oleh Allah, maka ia telah menolongnya dalam separuh agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang lain.” (HR Al Hakim)

Waaah…beruntungnya laki-laki itu… 😀


  • Istri yang beragama adalah karunia terbaik yang diperoleh seseorang setelah ketakwaan kepada Allah

Diriwayatkan dari Tsauban RA, dia berkata, “Ketika turun ayat. ‘Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.’ (Q.S. At Taubah [9] : 34) Kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan jauh. Lantas seorang sahabat bertanya, ‘Ayat itu turun mengenai emas dan perak, seandainya kami mengetahui apa harta yang paling baik?’ Rasulullah SAW menjawab,

“Harta yang paling baik adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur dan seorang istri yang beriman yang menolong dalam keimanannya.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi)

Semoga nanti juga bisa menjadi salah satu harta yang paling baik itu 😳

  • Istri yang beragama menolong suami dalam mentaati Allah SWT dalam urusan-urusan akhirat

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun malam lalu mendirikan sholat kemudian membangunkan istrinya sehingga turut mendirikan sholat. Jika si istri menolak, dia memercikan air ke wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu mendirikan sholat kemudian membangunkan suaminya hingga turut mendirikan sholat. Jika suaminya menolak, ia memercikan air ke wajahnya.” (H.R Bukhari)

dan juga selalu saling menasihati dalam ibadah wajib tentunya ya.. 😀

  • Istri yang beragama akan melahirkan anak saleh yang bermanfaat di dunia dan akhirat

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

“Apabila anak Adam meninggal, amalannya terputus kecuali tiga hal, ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir pahalanya dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

  • Istri yang beragama dapat mewujudkan unsur-unsur kebahagiaan rumah tangga bagi sang suami

Rasulullah SAW ditanya, “Istri bagaimanakah yang terbaik?”

Beliau menjawab,

“Yang membuat suami senang apabila melihatnya, menaati suami apabila menyuruhnya dan tidak menentang dengan cara melakukan tindakan yang tidak disukai suaminya menyangkut diri dan hartanya.” (HR An Nasa’i)

[Persepsi Keliru]

Hm, ini adalah catatan tambahan dari penulis yang menurut aq layak dikasih perhatian lebih, khususnya buat para lelaki yang sudah punya pujaan hati tapi merasa si pujaan hati masih belum cukup taaruf sama Allahnya dan buat perempuan-perempuan yang merasa belum cukup ilmu agamanya (kayanya gak pernah ada kata cukup buat ilmu) 😀

Iblis merasuki seorang pemuda dengan membawa persepsi keliru, yakni agar memperhatikan gadis cantik yang tidak beragama. Lalu kecantikannya menarik pemuda itu untuk melamarnya dengan tekad akan mengajaknya untuk taat beragama. Dia larut dengan anggapan bahwa gadis cantik memiliki banyak kebaikan.

Saya peringatkan bahwa persepsi ini tidak aman dan tidak menjamin sama sekali. Tidakkah Anda berfikir bahwa dia akan merusak agama Anda dan menjauhkan Anda darinya? Apa yang Anda lakukan seandainya Anda gagal mencapai tujuan? Jika kita menyaksikan berbagai contoh aktualnya, lihat batapa para suami malang itu hanya bisa mendulang kegagalan belaka. Pada akhirnya pilihan yang tersisa bagi mereka hanyalah antara bersabar dalam menganggung kerugian besar itu atau mengakhiri semua dengan perceraian.

Banyak pengalaman serupa yang terjadi, contohnya:

Perempuan A: Setelah berjanji kepada suami untuk komitmen berjilbab dan senantiasa menghadiri majelis-majelis ilmu, ternayta ia justru disibukkan oleh berbagai kegiatan luar di luar rumah dengan pakaian dan perhiasan mencolok.

Perempuan B: Setelah menikah, ambisinya untuk beragama justru semakin melemah, pada akhirnya ia hanya menjadi perempuan biasa yang hanya mencari kedudukan duniawi semata.

Perempuan lainnya justru hilang dari peredaran, tidak terlihat dan akhirnya terlupakan. Banyak sekali contoh lainnya sebagai akibat dari sikap buru-buru dalam pernikahan. Maka jangan tergesa-gesa wahai pemuda! Telitilah dalam menentukan pilihan, karena pernikahan bukan urusan sepele.

Gyaaah, saia langsung beristighfar membacanya. Semoga, jikapun saia ini kekurangan agama, saia tidak menjerumuskan laki-laki manapun ke neraka karena perbuatan saia. Bismillah, semoga menjadi motivasi untuk terus belajar agama dan menjadi lebih baik. :cry:

Karakteristik istri ideal? hoo… gimana itu? Dalam bait mukadimah di buku Be a Great Wife, karangan ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif, terdapat tulisan seorang cendikiawan yang sangat indah tentang istri ideal, yaitu:

Dia senantiasa memperhatikan kekurangan diri dan memikirkan agamanya serta menghadap Tuhannya. Suaranya dipelankan, lebih banyak diam, sikapnya lembut, lidahnya terjaga, sangat pemalu, amat berhati-hati, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang buruk, lapang dada dan penyabar, Dia sedikit sekali melakukan tipu muslihat, banyak bersyukur, menjaga kehormatannya, steril dari aib, penyayang, dermawan, rela, bersih, lembut, sangat baik, akhlaknya bagus dan budi pekertinya halus. Dia tidak pernah berbohong, bersih dari rasa kagum terhadap diri sendiri, meninggalkan semua hal yang kotor, bersikap zuhud terhadap dunia, tenang, tidak banyak bercanda, tidak mengumbar nafsu, jarang sekali bersiasat namun dapat diandalkan. Hatinya penuh belas kasih dan cintanya tulus. Jika dihardik ia menahan diri, dan jika diperintah ia taat. Dia membenci sikap enggan untuk berbuat baik. Dia tidak menyukai pemborosan dan membenci hal-hal makruh serta murka terhadap sikap angkuh. Dia merawat dirinya dengan wewangian khas wanita serta celak mata serta air. Dia puas dengan rezeki yang sekedar mencukupi. Dia menutup auratnya dengan cara menjaga diri, Dia sangat menyayangi keluarga, lembut terhadap suami, bersikap manja terhadapnya, memurnikan cinta kepadanya, tidak mempersulit dan mengalah demi urusannya. Dia lebih mengutamakan pendapat sang suami daripada pendapat pribadinya. Dia membiarkan sang suami memimpin dirinya. Dia menjaga rahasianya, melimpahkan sebesar-besar cinta kepadanya, dan lebih mementingkan suami dari ayah-bundanya sendiri. Dia tidak pernah menyinggung kekurangan atau membocorkan rahasianya. Dia memperbaiki urusannya, ikut bergembira dengannya, tidak membiarkannya sendirian dalam kesulitan dan kemiskinan tetapi justru menambah cintanya kepada sang suami disaat miskin. Dia menerima kemarahannya dengan kelembutan dan kesabaran, membuatnya senang sewaktu dia marah, menghindari kemurkaannya, waspada di saat sedang tidak bersamanya dan merasa senang dengan melihatnya. Dia adalah pendengaran, penglihatan dan hati bagi suaminya. Dia senantiasa berzikir, memahami ilmu Allah dan mengamalkannya. Dia jalankan semua perintah Allah sehingga dimuliakanlah ia.

۞ Be a Great Wife, Mukadimah hlm. 12-13 ۞

Hwaaah jadi malu, masih banyak banget kekurangan buat jadi istri shalehah ya… hayu..belajar lagi…
Semangat!! 😀


Beberapa hadits tentang pernikahan dari Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: “Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk ummatku.” Muttafaq Alaihi

Beberapa Firman Allah tentang Pernikahan:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. An Nuur (24) : 32)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”
(QS. Adz Dzariyaat (51) : 49)

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui!¨
(Qs. Yaa Siin (36) : 36)

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik
(Qs. An Nahl (16) : 72)

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
(Qs. At Taubah (9) : 71)

Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.
(Qs. An Nisaa (4) : 1)

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga)
(Qs. An Nuur (24) : 26)

Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.
(Qs. An Nisaa’ (4) : 3)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.
(Qs. Al Ahzaab (33) : 36)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(An-Nuur:32)

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”
(Al-Isra 32)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya”
(Al-A’raf 189)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(An-Nur 26)

Referer: diambil dari sini

Fungsi Keluarga

Pernikahan merupakan suatu titik awal dalam membina rumah tangga yang berujung pada pembentukan keluarga yang baik, atau seperti banyak orang doakan ketika pernikahan untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Nah, sebelum lebih jauh cerita tentang gimana siy cara membentuk keluarga yang ideal kaya gitu, kita kudu tau dulu dunk apa siy sebenernya fungsi keluarga itu? Yuk kita sama-sama baca Bab Pertama dari buku Fikih Nikahnya Tim Almanar terbitan Syaamil.

[open book]

Visi Islam tentang Keluarga

Ketika Rasulullah SAW mengatakan “Rumahku Surgaku”, beliau telah mengisyaratkan betapa strategisnya fungsi keluarga. Islam memandang keluarga, sebagai surga kecil. Sebaliklah, ketika masyarakat Barat menganggap perkawinan dan keluarga sebagai neraka kehidupan, mereka justru terkerumus dalam neraka individualisme.

Sebuah keluarga akan menjadi surga kecil jika ia memenuhi empat fungsi, yaitu:

Fungsi Fisiologis
Satu dari empat yang membuat orang bahagia, seperti sabda Rasulullah SAW, adalah fungsi fisik ini.

“Istri yang shalihah, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman dan tetangga yang shalih.”
(H.R. Al Hakim)

Rumah luas melapangkan dada, makanan bergizi menghilangkan lapar dan menyehatkan raga. Secara fisik, sebuah keluarga berfungsi sebagai:

  1. tempat semua anggotanya mendapat tempat berteduh yang baik dan nyaman,
  2. tempat semua anggotanya mendapat makan dan minum, pakaian yang cukup,
  3. tempat suami istri memenuhi kebutuhan biologisnya.

Fungsi Psikologis
Secara psikologis, fungsi keluarga adalah:

  1. tempat semua anggotanya diterima secara wajar dan apa adanya,
  2. tempat semua anggotanya mendapat perlakuan secara wajar dan nyaman,
  3. tempat semua anggotanya mendapat dukungan psikologis bagi perkembangannya,
  4. basis pembentukan identitas, citra dan konsep diri segenap anggotanya.

Inilah makna khusus dari suasana surgawi keluarga, karena istri dan anak-anaknya adalah hiasan dunia yang kita semua secara fitrah mencintainya. Bila orang bebas dari kelaparan dan aman dari ketakutan, ia dapat beribadah dengan baik[1].

Fungsi Sosiologis
Fungsi sosiologis sebuah rumah yaitu:

  1. sebagai lingkungan pertama dan terbaik bagi segenap anggotanya,
  2. sebagai unit sosial yang menjembatani interaksi positif antara individu-individu anggotanya dengan masyarakat sebagai unit sosial yang besar.

Fungsi Dakwah

  1. menjadi objek pertama yang harus didakwahi oleh setiap da’i,
  2. menjadi model keluarga Muslim ideal bagi masyarakat Muslim maupun nonMuslim sehingga ia menjdai bagian menyeluruh dari pesona Islam,
  3. setiap anggotanya terlibat sebagai pastisipan dakwah yang aktif dan kontributif,
  4. memberi antibodi segenap anggotanya dari virus kejahatan.

catatan kaki:
[1] Lihat Q.S. Quraisy : 3-4

[close book]

Nah, setelah baca buku di atas, keliatan kan beberapa fungsi keluarga yang akan menjadi suatu tolak ukur. Keluarga kita dah jadi keluarga yang ideal sesuai fungsinya gak siy? Kalo sebelum baca tulisan di atas, kira-kira apa fungsi keluarga menurut kamu?

Praata Bhaskaara

Dear cinta,
Disini mulai senja,
karena hadirmu memudar..
padahal baru semalam kau tak disini..

Pagi masih sepi, semburat matahari ungu juga masih malu-malu muncul menerjang gelap. Rembulan juga masih bertenger di posisinya, walau sinarnya kalah dengan sang bhaaskara. Aku sengaja keluar dari rumah, untuk menghirup udara yang bercampur dengan embun. Hm, pagi ini sejuk, dan mesra, tapi sayangnya kau tidak ada disini. Huff…, aku menghela nafas dalam, mengenyahkan semua sesak karena rindu yang memuncak… tak bisakah kuingat senyummu saja, karena sesungguhnya ini masih pagi, tak seharusnya kuawali hari ini dengan kesedihan. Kau hanya pergi sebentar saja kan sayang…
“Na, Nana…ngapain kamu di luar?”, suara mamaku terdengar menghapus lamunanku.
“Hm, nggak apa-apa kok Ma, nyari udara seger aja.” sahutku.

“Ya udah sarapan dulu sana, ada roti ama teh manis tuh,” lanjut mamaku.

“Heh?? masih pagi Ma, ntar aja lah… mau peregangan otot dulu, nyapu-nyapu gitu..hehe,” sahutku lagi sambil mencari-cari sandal.
“Hoi kak! sms niy”, si tengil Nyawang menghampiriku setengah berlari sambil menyodorkan ponselku.
“Sapa?” tanyaku.
“Hm, gtw, kayaknya siy dari nadanya yang norak itu dari tunanganmu itu tuh..,” Nyawang menyahut dengan nada mengejek.
“Heh, gitu-gitu kan calon abang iparmu tuh.”
“Ye, yang norak kan kamu, pasang nada sms kek gitu, bukan calon abang iparku.”
“Oiya, ya, hehehe…” sahutku sambil garuk-garuk kepala.
“Bales tuh, keburu ketiduran lagi dia nungguin kamu bales.” Nyawang ngeloyor pergi.

[cinta, dah bangun, lagi apa?]

Hm, ternyata dia kangen juga.

[udah sayang, aku lagi menikmati udara pagi sama embun-embun sambil lirik-lirik kamu yang malu-malu muncul dari timur. Bhaskaraku lagi apa? aq telpon ya..]

Aku terdiam sejenak, menunggu balasannya. Kadang merasa aneh sendiri, bermanja-manja dengan orang ini di pagi-pagi buta begini. Tapi entahlah, that’s a natural. Tak lama terdengar suara sms yang diklaim norak oleh adik semata wayangku.

[lagi mau olahraga, jangan deh…aq gak mau bawa HP, yang penting aq tau kamu baik-baik aja, have a nice day ^_^]

Hm, ada sedikit rasa kecewa, tapi yasudahlah, yang penting dia juga baik-baik saja.

[OK, kamu juga ya cinta..^_^]

Aku melanjutkan niat awalku untuk menyapu halaman sambil senyum-senyum sendiri. Nyawang yang mengintip dari jendela geleng-geleng kepala. Hari itu kulanjutkan dengan mandi, sarapan, sholat dhuha, mengecek email, kali aja ada panggilan dari beberapa lamaran pekerjaan yang aku masukkan. Setelah puas mencari-cari lowongan pekerjaan yang baru, aku lantas mencoba menghubungi Bhaskara.

[Assalamu’alaikum, hei, udah mau dzuhur niy, tadi sarapan apa?]

Tak lama setelah aku mengirim sms itu, suara azan zuhur terdengar, Bas belum juga membalas smsku. Aku lantas wudhu, kembali mengecek inbox, belum juga ada, aku lantas sholat dengan sedikit rasa galau. Ah mungkin lagi sibuk, atau ketinggalan kali ya hpnya. Aku menyibukkan diri dengan kegiatan rumah. Hari mulai sore, azan ashar sudah terdengar, Bas belum juga membalas smsku. Hm…tunggu jam 5 deh…mungkin HPnya memang ketinggalan.

Sekarang sudah jam 7 malam, Bas belum juga membalas smsku. Berkali-kali kutelepon, selalu sibuk. Kalau ketinggalan kan harusnya nyambung, tapi ini nadanya sudah langsung sibuk. Hm, mungkin memnag sibuk atau jaringannya lagi bermasalah. Tapi aku tidak bisa menyimpan rasa kekhawatiranku. Bas tidak biasanya seperti ini jika pun dia sibuk. dia pasti bilang dulu. Sehingga aku tidak sekhawatir ini. Jangan-jangan ada apa-apa. Aku semakin stress ketika menyadari Bas sedang keluar kota sendiri, menginap di hotel yang aku lupa menanyakan nama hotelnya, dan aku tidak tau siapa yang bisa kutanya keberadaannya.

Zrrrt…tiba-tiba ada suara sms masuk, aku langsung menghambur mengambil ponselku. Dari Bas, aku langsung bersyukur dalam hati dan tak sabar membukanya.

[jangan hubungi gw lagi.]

Hah? apa ini? gw??? Bas gak pernah kaya gini. Aku mengecek lagi sumber sms itu, benar itu Baskara. Aku langsung menelepon, minta penjelasan. teleponku di angkat, tapi tidak ada yang menjawab, hanya sunyi dan suara mobil yang lewat sesekali. Ya ampun, ini siapa, kemana Baskara?? Aku mencoba mengirim sms lagi, tapi gagal. Sepertinya sudah dimatikan. Ya Allah…

Aku menceritakan kejadian ini pada mama dan adikku, mereka bilang mungkin hpnya diambil orang dan belum ada waktu untuk menelepon. Hummm mudah-mudahan…that’s relieving.. Tapi gimana Bas tanpa ponsel? dia kan sedang tugas di luar kota…

Aku tidak bisa tidur malam itu, segala macam kemungkinan buruk menghantuiku. Aku mencoba menepis berkali-kali, kadang menangis, sampai aku lelah sendiri dan akhirnya tertidur.

Zzzrrrrtttttt….aku terbangun mendengar suara ponselku. Nomor tak dikenal, hm… mungkin saja Bhaskara.

“Halo”
“Halo, dengan Mbak Chandra?”
“Iya, ini siapa?”
“Ini Arka mbak,”
“Arka?” aku berfikir sejenak. Arka, adiknya Baskara..
“Arkaa….kamu tau kabar Baskara?”
“Hehe…iya Mbak, mau ngabarin…Mas Baskaranya udah dirumah.” Sahut Arka cengengesan.
“Hufff…gitu ya….baik-baik aja kan?”
“Iya, lagi capek katanya. Jadi aq yang disuruh nelpon Mbak”
“HPnya kemana kok gbisa dihubungi?”
“Diambil orang Mbak, trus biasa, Masku kan pikun, dia gak inget nomor orang satu pun. Makanya dia gak bisa ngehubungi sapa-sapa. Trus kemaren dia juga nyasar di sana, makanya sekarang kecapean, abis jalan berapa kilo gitu, soalnya lupa nginep dimana. Hehe…”

Aku speechless, memanglah tunanganku ini….

“Ya udah titip cubitin ya Ka, bilang awas kalo ketemu!!”
“OK Mbak…orangnya mah udah bikin pulau tuh di depanku. Hehe…”
“Ya udah, makasih ya Ka…”
“Yo…” Arka menutup telponnya.

Bhaskaraaaaaaa…….awas kamu kalo ketemu… :(

pratigina, 2010