Feeds:
Pos
Komentar

Cerita Selama Hiatus

Wah, udah lama banget niy blog dianggurin. Alhamdulillah, setelah menikah saya dan suami langsung dititipin anak sama Allah. Putera pertama kami bernama Sabiq Auliya Prakasatya. Sekarang usianya lebih kurang setahun dua bulan sembilan belas hari. Si lucu, yang suka ngaduk ngaduk perasaan ayah ibunnya. Niy anaknya lagi bobo di samping.

Sabiq lahir normal dengan berat 3.1 kg, nanti kalau ada waktu lagi diceritain deh. Kayanya gak muat juga mau nyeritain yang udah udah, soalnya setiap hari pasti ada cerita baru bareng Sabiq dan ayah.

Sekarang gak kerasa, anak kami udah bisa jalan dan ngoceh dengan maksud yang benar. Mudah-mudahan masih dikasih kesempatan buat terus sama-sama belajar tentang kehidupan sama Sabiq dan ayah. Mulai sekarang pengennya sharing siy disini, hehehehe…Bismillah…

image

Langit Harus Biru

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS 39:10)

Sejak pagi aku mengutak-atik laptop dan tak satu pun artikel yang aku cari aku dapatkan. Aku hampir desperate karena tak kunjung menemukan yang aku cari, kerjaan rumah masih tak tersentuh, tumpukkan buku yang harus dibaca dan tugas yang harus diselesaikan masih menumpuk di meja. Pemandangan ini membuat udara di sekitarku semakin terasa gerah. Lantas tiba-tiba aku teringat dia, yang tak ada disini. Aku membuka-buka ponsel mencari-cari pesan darinya, satu dua tiga, rasanya sehari lebih dari sepuluh kali kami berbalas sms. Walaupun selang membalasnya lama, tapi aku percaya dia berniat membalas pesanku.

Aku berjalan gontai merebahkan diri ke kasur karena merasa tak sanggup lagi berkutat di depan laptop. Rasanya ingin sekali mengirim pesan atau menelepon hanya untuk mendengarkan suaranya, tapi tertahan rasa. Sabarlah…sms tadi saja belum dibalas, mungkin dia masih sangat sibuk. Aku mulai membuka file-file di ponsel, mencari-cari guratan senyum yang meneduhkan hati itu, tapi naas malah air mata yang terjatuh. Dan aku tak tau, kenapa aku menangis. Aku tau, dalam sepi dan kerinduan ini inginku sebisa mungkin hujan turun dan waktu membiarkanku menangis sampai tertidur. Lantas apakah semua penatku ini hilang? sayangnya tidak, lalu apa? Azan menjawab tanyaku, aku melompat dan menghambur ke air. Ah, sangat segar, tapi air mataku tak hendak berhenti mengalir, karena lagi-lagi teringat, harusnya di saat seperti ini kau ada dihadapanku melempar senyum sambil berkata, “sholat yuk”.

Aku sholat dengan mata sembab, secara spontan kupilih surat Al Insyirah, terngiang-ngiang di telingaku, “Fa inna ma’al ushri yusraa, inna ma’al ushri yusraa..”, aku yakin dapat melewati hari-hari ini. Selesai sholat aku sedikit tenang dan berniat kembali ke aktifitasku. Aku berusaha mengembangkan senyuman ketika tanpa sengaja menangkap bayanganku sendiri di cermin. Lalu aku teringat lagi, kamu biasa memelukku dari belakang dan berkata kalau aku cantik. Aku tidak cantik, tapi seberapa kali pun aku mengelak, kau akan tetap tersenyum dan mengatakan aku cantik, dan itu membuatku kembali ingin menangis.

“Hai, apa kabar?”, seorang teman menyapaku lewat instant messaging.

“Baik”, jawabku.

“Dimana sekarang? Katanya udah nikah ya?”

“Iya, alhamdulillah.”

“Enak dong, ada yang nemenin tiap hari,” deg…salah sekali..

“Hehe, nggak kok. Aku LDR niy sama suamiku.”

“Owh, emang kenapa gak ikut suami aja?”

“Masih ada kuliah, dan gak memungkinkan.”

“Lhah, salah sendiri itu mah, gak ada yang mau ngalah sih ya”

“Hehe :P”

Hahaha, aku tertawa sendiri dalam hati, kecut. Iya ini pilihan hidupku sendiri. Apa iya aku ini egois? apa iya semua ini salahku sendiri? Mungkin memang iya. Lantas aku tak boleh protes ya? Sungguh, setiap kali kamu bilang “Sabar ya sayang…” aku berontak dan bertanya dalam hati, “Kenapa harus aku yang bersabar?” lalu Allah menjawab, “Karena kamu yang lebih mampu bersabar”. Aku tidak tau sayang, tidak pernah tau, apakah kamu juga merasakan kerinduan yang sama? Apakah ini akan selamanya? Apakah setelah dimakan waktu semua kerinduan ini hanya akan menjadi kebiasaan dan tak lagi terasa? Aku masih sering bertanya-tanya apakah sabar ada batasnya? Tapi ternyata sabar tak ada batasnya. Kesabaranku selalu kurang setiap kali merelakanmu pergi, kesabaranku selalu hilang ketika kau berkata, “Aku balik ke kantor besok ya..”, dan aku selalu mengeluh dengan semua keadaan yang kuciptakan sendiri. Tapi kamu tak pernah bosan dengan semua itu. Sungguh sayang, aku belum bisa bersabar, mungkin karena itulah, Allah masih akan terus membuatku berada dalam keadaan ini.

Setiap kali aku berkata cukup!, ada sesuatu yang menyusup dalam hati. Aku beruntung, walaupun jauh kita masih berada di dunia yang sama, suaramu masih bisa kudengar dengan jelas. Walaupun jauh, saat bertemu aku akan melupakan semua rasa sakit karena menantimu. Walaupun jauh, kamu masih peduli dan dengan rutin menanyakan kabar dan mengabari, sehingga tetap menjadikanku seseorang yang paling tau dimana kamu. Lalu, semua itu membuatku berfikir, daripada aku mengeluh, lebih baik aku mendoakan keselamatanmu, mendoakan kebahagiaanmu, menjaga semua yang kamu percayakan padaku. Sayang, maafkan aku yang masih suka mengeluh.Walaupun kau bilang itu wajar, tapi aku tau aku salah. Aku tau kita sedang sama-sama jatuh cinta….

Untuk lautan, ketika ia tenang, langit harus biru, agar lukisannya jadi indah dan batas horizon terlihat jelas..

Langit Senja, 13 Oktober 2010
rancu, antara cerpen dan curcol

The Golden Rib Journey

Dan demikianlah Rabb menjadikan pasangan dari sisi-mu agar kamu merasakan ketenangan..

Seperti badai agatha, pada laut yang merindukan langitnya; menggapai-gapai, bergemuruh badai..

Seperti seorang rabi, pada sisa usia senja; menandai Muhammad dengan indera keenamnya dan berkata “dialah..dialah!”

Seperti jua samudera, pada siluet yang digariskan hujan di kanvas lazuardi, lelah menghantar ombaknya,ingin berhenti

Seperti itu aku menemukanmu;

resah untuk mencari tenang dalam genap yang sempurna: purnama..

Maka demi itu,aku turut wasiat ulama: “be good of you, to find the good partner for you..”

Sejak itu aku mencoba berikhtiar:

membuat list of criteria

mendefinisikan idealisme rumah tangga

menggores sketsa wajahnya di relung jiwa

menggambar peta untuk jejak-jejak hidup bersamanya

Duhai Maha Pembolak-balik hati

Engkau jua yang menghantarkan aku dari dia menjadi dia,

lalu dia (oops..out of criteria),

lalu dia “ah..tak kasat mata”

lalu dia (tetapi hati menampiknya),

kemudian dia: Ahh..aku lelah Ya Rabb..

Tak pantas jua kiranya  hamba nista ini berlagak mencari sempurna

Biar kuserahkan dia padaMu: melalui sujudku yang kelu

kucampakkan list of criteria,kuhanguskan mimpi dan masa lalu

tak lagi kugunakan mata untuk menyibak tirainya

tak jua rasa yang mengombang-ambingkan jiwa

kuhanya hantarkan hati, agar ia berjumpa dengan doa

Ramadhan silam: aku bersimpuh saja di serambi lailatulqadr,

meluncurkan panah-panah doa dari busur harapku pada-Nya:

“Rabbana hablana,min azwaajina qurrota a’yun..waja’alna lil muttaqiina imaaman..”

Maka Ya Rabb, terima kasih telah mewujudkan Mimpi Ramadhanku: izinkan aku menjumpai Ramadhan tahun ini bersama mimpi itu,

“Jawaban dariMu”, “pusaka hidupku”: Sang Rusuk Emas

-surat dari samudera kepada langitnya-

-alesagara-

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah asing berserakan, itu yang namanya cantik ya? Aku terusik dalam bungkam. Bukan terkesima oleh kemolekan tubuh para wanita yang terpajang santai di billboard dan poster itu, aku malah merasa malu, karena rasanya aku yang tengah ditelanjangi oleh semua mata yang melihat mereka. Rasanya sangat menyesakkan, saat beberapa wanita dengan bersusah payah, bahkan mungkin mengorbankan banyak hal untuk menutup auratnya, beberapa wanita lain dengan bangganya mengumbar. Rasanya sakit, sepertinya usaha orang-orang yang pertama tidak dihargai. Hm, mungkin mereka bilang itu hak azasi. Iya ya? Bukankah menutup aurat itu hukumnya wajib? Sama halnya seperti sholat? Aku makin tidak mengerti.

Lambat dan penat, bus yang kutumpangi ini bergerak sangat lambat di jam sibuk. Padahal di luar tengah hujan cukup lebat. Beginilah ibukota, rasanya waktu yang berharga banyak terbuang di jalanan ini. Untungnya ada sesosok wajah di hadapanku yang meskipun terlihat letih masih terasa mesra senyumnya. Ini Latief suamiku, sedari tadi dia berdiri disisiku sambil sesekali tersenyum, seperti hendak berkata kalau dia baik-baik saja. Aku tau dia lelah, lelah karena perjalanan jauh yang kami tempuh, tapi dia masih dengan sigap menyerahkan tempat duduknya pada seorang lansia yang masuk ke bus hanya berselang 5 menit sejak kami duduk.

Aku dibesarkan di desa, pergerakan informasi sangat lambat, meskipun pemahaman masyarakatnya akan Islam tidak syamil, tapi mereka melaksanakan apa yang mereka tahu dan pahami dengan sungguh-sungguh. Sami’na wa atho’na. Dibesarkan dengan segala keterbatasan, aku menjadi orang yang juga hidup apa adanya, tidak pernah menginginkan banyak hal. Satu kata yang selalu kuingat dari ayah adalah, panjang angan itu tidak baik. Apakah salah bermimpi? Tanyaku waktu itu pada ayah. Ayah hanya menjawab dengan tenang, “Tidak salah bermimpi, tapi jalani secara bertahap, syukuri semua yang kita dapat. Melupakan nikmatnya proses saat meraih mimpi membuat kita sering kecewa, makanya tidak salah bermimpi, tapi jalanilah perlahan, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.” Ayah mengutip dua ayat terakhir surat Al Insyiraah. Dia mengajarkanku untuk mementingkan apa yang disebut proses, bukan hasil.

Aku pertama kali berjilbab bukan karena dipaksa atau disuruh oleh orangtuaku, tapi karena sindiran dahsyat dari Al Quran. Aku langsung memakainya, tanpa ragu. Apa yang meragukanku? Itu perintah. Apa lantas aku jadi orang yang suci setelah memakainya? Tidak juga, aku yakin masih banyak dosa dan maksiat yang aku lakukan setelah memakainya, tapi setidaknya, dengan menutupi auratku, aku tidak membuat orang lain juga berdosa karena melihatnya. Setidaknya, dengan memakainya aku menjadi malu apabila ingin berbuat ini dan itu. Itulah yang disebut proses buatku, proses membenahi diri dengan melakukan yang harus kulakukan terlebih dahulu, faidzaa faraghta fanshob, wa ilaa rabbika faarghab.

Kariima Latief, itu namaku..

Bunda adalah wanita yang amat baik dan berbakti pada ayah, tapi dia hanyalah wanita desa biasa, yang belum sampai padanya berbagai ilmu. Aku pun salah, karena tidak berbagi ilmu pada bunda, aku sibuk dengan dunia remajaku. Selembar, dua lembar kerudungku sering dipandangi bunda. Hatiku terenyuh, apa bunda ingin memakainya? Dia sering memakai selendang seadanya ketika pergi pengajian. Tapi tidak di sela-sela hari sibuknya menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan melayani pembeli di kedai depan. Bunda memang tak pernah pergi lebih jauh dari ujung gang rumah, karena khawatir ayah yang sering tiba-tiba pulang, atau tak ada yang menjaga kedai kecilnya. Tapi mungkin bunda juga ingin terlihat lebih cantik dengan kerudung merah marun berpayet seperti milik Hajjah Isna yang sering diceritakannya, dan aku memang yakin bunda bakal lebih cantik. Tapi mungkin bunda adalah wanita yang tak banyak inginnya, tepat seperti pesan ayah. Dia lebih senang membelikanku atau kakakku baju baru dari sisa keuntungan jualannya, daripada membelikan baju baru untuknya sendiri.

Saat lebaran, aku ingat, bunda memakainya dengan sangat rapi. Kerudung ungu, cantik sekali. Ayah hanya diam, sambil tersenyum. Bunda cantik, dan aku tidak pernah lagi melihat bunda melepas kerudungnya di luar rumah setelah itu. Itu titik awal yang indah. Ayah ternyata tak pernah keberatan, bahkan dengan kasih sayangnya berkali-kali setelahnya, aku dapati Ayah membelikan gamis untuk bunda. Seperti mendapati impian yang sudah lama diinginkannya. Raut wajah ayah menyiratkan bahwa ia telah mendapati bidadarinya di dunia. Yang walaupun tak muda lagi, tapi rasanya sudah sempurna. Bunda memakainya karena keinginannya sendiri.

Kariima Latief, itu namaku..

Annisa, kakakku yang cantik dan terpelajar. Darinya aku mendapatkan hadiah ulang tahun Al Quran yang berterjemah pertamaku, dan ayat-ayat yang selama ini tak kumengerti seperti pintu yang terbuka lebar. Aku seperti mendapatkan seluruh dunia di tanganku. Kakakku adalah orang yang cukup terbuka fikirannya, namun dia kurang kuat hatinya. Aku tahu, karena dia cerita padaku, kalau dia pertama kali memakai kerudung karena rasa cintanya pada seorang pria. Katanya pria itu soleh, dan berkata pada semua orang kalau dia suka wanita berkerudung. Dengan niat itulah, kakakku berkerudung. Tak lama kemudian, laki-laki itu menikah, dengan wanita yang tidak berkerudung, hanya lebih cantik, lebih berpendidikan dan lebih kaya. Impiannya, menjilbabi wanita itu setelah menikah. Tapi entahlah, sampai sekarang aku lihat istrinya masih belum berkerudung tuh. Kakakku sempat kecewa dan hendak melepas kerudungnya, tapi setelah sindiran sinisku padanya dia sepertinya mengurungkan niatnya.

“Kakak kecewa? Terus mau lepas kerudung? Memangnya kerudung ini dia yang suruh pake, orang yang suruh Allah kok. Kalo kakak lepas berarti kakak kecewa sama Allah? Wah, betapa durhaka dan gak berterimakasihnya kakak… sementara banyak orang yang ingin berkerudung tapi dilarang,” sindirku sinis sambil melengos pergi.

Kariima Latief, itu namaku..

Hujan masih mengguyur ibukota siang itu, suasana masih sepenat tadi. Jalanan tampak sepi dari manusia. Hanya di pinggir-pinggir jalan menuju pusat perbelanjaan banyak anak-anak ojek payung yang menunggu para pengguna angkutan umum turun dan menyambangi mereka. Gedung-gedung bertingkat menjulang mengingatkanku pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Aku berhasil memperoleh gelar diplomaku, dengan susah payah aku melamar pekerjaan kesana sini, namun tidak ada jawaban. Dari nama saja pun tidak menjual, seloroh teman seangkatanku. Jikapun ada, mereka lantas menanyakan kerudungku. Lalu menanyakan apa yang akan aku pilih antara pekerjaan dan keluarga. Aku dengan tegas menyatakan tidak akan merubah penampilan dan pilihanku. Apa gunanya ilmu yang dengan susah payah kupelajari, jika ternyata hanya fisik yang mereka lihat.

Aku hampir putus asa, lantas suatu malam aku diingatkan lagi olehNya lewat An Nahl ayat 69, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik” dan satu hal yang selalu membuatku tidak boleh berputus asa adalah perkataan Rasulullah SAW bahwa doa seseorang itu akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru menyebabkan dia berkata “aku berdoa tapi tidak dikabulkan”.

Alhamdulillah, tidak lama berselang setelah malam itu, datang seorang pemuda yang melamarku. Seorang yang alim, keras wataknya namun lembut hatinya selembut namanya, Abdul Latief. Dengan jawaban Allah itu, maka luruhlah semua kegundahanku. Bukankah yang kuingini hanya memperoleh ridha Allah? Sedangkan dengan memiliki suami, menurutinya dan memperoleh ridhanya aku akan memperoleh pahala menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah dan berjihad. Alhamdulillah juga, aku masih diberi kesempatan mengamalkan ilmu, dengan menjadi guru di madrasah dekat rumah mungil kami. Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sekarang, aku melewati jalanan ini, dengan segala protes kecil di hati, segala hal yang sebabnya tidak kumengerti dan segala hal yang ingin kuperbaiki. Seperti diingatkan, bahwa masih banyak kewajiban yang harus aku lakukan di dunia. Sudah cukup segala nikmat Allah untukku, lantas untuk mereka? Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Namun tetap dengan tegas aku akan berkata,

Kariima Latief, itu namaku..


In the rainy day
Happy sweet seventeen for my sister ^^
Buitenzorg, 16 Juni 2010
pratigina©2010

Sore kemarin, sambil iseng ngabuburit aku ambil Kitab Mutiara Riyadhushshalihin yang udah lama kuanggurin dari lemari. Walhasil aku buka bab terakhir yang sudah kutandai, dan aku langsung disajikan pada Bab-Bab yang banyak berkaitan dengan perempuan (hehe). Selintas aku mikir, mungkin Allah minta aku untuk belajar memahami wanita dengan lebih baik ya?hehe. Maklum, katanya kaum hawa aku ini laki-laki yang nyebelin, suka seenaknya, dll**under censored**.
Eniwei, aku mulai dengan Bab tentang Menyayangi Anak Yatim, Anak Perempuan, dan Orang yang lemah serta miskin. Pada bab ini, aku diingatkan kembali dengan satu hadith Imam Bukhari yang artinya demikian,

“ Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga dengan posisi begini (seraya Rasulullah mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya hampir berdempetan).

Waah, kalo inget hadith ini pengen rasanya cepet-cepet jadi orang kaya (pengennya..), supaya bisa ngasih mereka lebih banyak. Kalo sekarang mah paling ngasi yang minta-minta serebu-serebu aja,yaah yg penting mah istiqomah dan ikhlasnya yah (alesan). Baru aja ngayal bayangin lg ngasi anak yarim orang miskin tiba-tiba aku disajikan dengan hadith lain dari Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang orang miskin.

Bahwasanya “Bukanlah (yang disebut) orang miskin itu orang yang berkeliling ke sesama manusia karena tergiur satu-dua biji kurma, atau satu dan dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta untuk mencukupi keperluannya dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk mengharapkan sedekah serta tidak pernah berjalan untuk meminta-minta pada orang lain”.

Subhanallah, betapa mulia Islam mengajarkan penganutnya untuk tetap mempertahankan harga dirinya. Adakalanya yang sudah berkecukupan pun masih saja mengemis harta, dengan cara yang pastinya berbeda dengan orang-orang miskin. Dari hadith ini, aku memahami satu hal bahwa Allah tidak ingin hamba-hambaNya mengemis kepada sesama hamba, Ia menginginkan kita hanya mengemis kepadaNya, ya, kepada yang Maha Kaya, yang Maha Memiliki Segala. Wallahu muwaffiq,

Sahabat, hadith selanjutnya makin membuatku tersentak, karena mungkin isinya menyinggung rencana yang sudah kupersiapkan akhir-akhir waktu ini. Beginilah Rasulullah bersabda,

“Makanan terburuk adalah makanan walimah (pesta) dimana orang yang memerlukan makanan itu tidak diundang dan orang yang tidak memerlukannya malah diundang. Barang siapa yang tidak memenuhi undangan walimah, maka dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Diriwayatkan Imam Muslim)

Pesan yang aku terima setelah membaca hadith ini adalah, bahwa Allah, menginginkan kita untuk senantiasa memuliakan orang miskin, hingga di saat-saat bahagia kita, misalnya saat mengadakan pesta walimah, Allah memerintahkan kita untuk turut mengundang saudara-saudara kita yang membutuhkan, bukan hanya kerabat dan kolega kita. Masya Allah..Serasa ditampar babon **tiba-tiba puyeng**

Well, cerita tentang perempuannya belum ada yak..hehe setelah dicari-cari disinilah baru ketemu hadithnya. Satu hadith terakhir dari bab ini yang menurut saya cukup unik dan ingin saya share adalah hadith riwayat Bukhari-Muslim berikut:

‘Barang siapa yang mengasuh dua anak perempuannya hingga dewasa, maka pada hari kiamat kelak aku akan bersama orang itu bagaikan dua jemari ini” (Seraya Rasul merapatkan kedua jarinya).

Tau apa yang langsung terlintas dalam fikiranku?hehe **jadi pengen malu**. Aku mikir gini “wah untung banget ya Pak Narto dan Bu Narto (camer), anak mereka dua-duanya perempuan, yang satu masih ABG yang ga neko-neko amat, yang satu lagi udah ketauan shalihahnya ^_^.

Kalau boleh menganalisa, menurutku hadith ini tidak terlepas kait dengan kebiasaan adat arab zaman jahiliyyah dahulu yang membunuh anak-anak perempuan mereka karena dianggap membawa sial bagi keluarga. Kejam banget ya, atas dasar apakah mereka dibunuh? Atas perbuatan keji ini Allah telah mengutuk perbuatan kaum jahiliyyah dalam Surah At-Takwir 8-9, yakni ketika kiamat menjelang, maka anak-anak perempuan itu pun dipertanyakan, atas dasar apa mereka dibunuh? Na’udzubillah, mari berlindung kepada Allah dari perbuatan keji ini.

Tapi, fikir punya fikir, sebetulnya bukan tanpa alasan bahwasanya kaum hawa ini dianggap membawa kesulitan, karena fitrahnya, dari sononya, wanita memang makhluk yang sangat unik. Yang dalam memperlakukan mereka, perlu pemahaman yang baik. Bersabda Rasul, sebagaimana dituturkan Imam Bukhari dan Muslim,

“Berpesan-pesan baiklah kalian terhadap kaum perempuan. (Ini) karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Karena itu, jika engkau memaksa dalam meluruskannya, maka akan hancurlah ia. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan bengkok selamanya. Karenanya, berpesan-pesan baiklah terhadap perempuan.”

Inti hadith ini menurutku adalah, dalam mengajak perempuan pada kebaikan dengan cara paksa justru akan menghancurkannya. Nah mungkin dampak lebih detilnya bisa ditanyakan pada psikolog yak..Tapi jika kita tetap membiarkannya, dalam hadith lain dikatakan “hanya ingin bersenang-senang dengannya, maka engkau akan puas, namun niscaya mereka akan tetap bengkok.” . Perihal ini, aku jadi teringat pesan ustadzku waktu masih mondok di pesantren,

”wanita itu ibarat pasir, jika kau genggam ia terlalu erat pasir itu akan berhamburan, begitupun jika kau lepaskan genggamanmu, berhamburan jua ia”.

Subhanallah..complicated juga makhluq Allah yang satu ini yah. Tapi gimana lagi, laki-laki memang membutuhkan satu rusuknya itu kembali utuh dalam dirinya. Well, next aku akan cerita-cerita lagi tentang bagaimana perjalanan mencari “rusuk emas” ini, lalu bagaimana setelah ia kembali utuh dalam diri kita.
Semoga hasil keisengan ini bermanfaat.

Salam.

Stress - andyhakiem.wordpress.com

Yah, akhirnya aq memutuskan untuk menulis artikel ini, kenapa? ya pengen aja.. Berhubung aq dan teman-teman memang sudah ada di usia awam orang menikah, jadi mudah-mudahan artikel ini berguna. Sekalian menanggapi beberapa hal yang mungkin juga dialami orang-orang yang awam di masa-masa persiapan pernikahan. Hasil membaca di beberapa artikel ditambah nasihat dan curhatan teman-teman yang juga pernah dan sedang berada di posisi persiapan pernikahan, masa ini merupakan masa yang sensitif dan cenderung menyebabkan stress, apalagi kalau tipe orangnya susah dibawa nyantai. Konflik-konflik antara kita dan calon suami kadang terjadi hanya karena masalah sepele.

1. Kapan akan menikah? Kapan akad? Kapan resepsi?

Sesaat setelah terbang melayang karena datang pertanyaan “would you marry me” dari sang pujaan hati, maka akan muncullah serentetan pertanyaan lanjutan, tentang kapan? Sebagaimana pemuda usia 20-30an yang sedang senang-senangnya menikmati dan merencanakan kehidupan, setiap kita pasti punya plan hidup masing-masing. Dan mungkin jaaauh sebelum lamaran itu datang, kita sudah merencanakan, kapan harus pindah kerja, kapan harus menikah, kapan harus punya anak, kapan harus kuliah lagi, dan serentetan perencanaan hidup yang mungkin akan terusik dengan satu kalimat “would you marry me”.

Hei, tapi apakah benar kata itu merusak plan kita? Hm, jangan panik dulu, semuanya kan bisa dikomunikasikan. Sebelum bernegosiasi untuk menyesuaikan plan hidup masing-masing, kenali dulu seperti apa siy calon pasangan kita? Apa dia punya prinsip-prinsip khusus yang gak bisa dilanggar? Misalnya ada beberapa tipe suami yang tidak memperbolehkan istrinya bekerja, atau suami yang ingin istrinya selalu ada disisinya dan berbagai macam tipe lainnya yang mungkin akan membuat negosiasi menjadi alot, kudu sabar dan cari pilihan kata yang baik kalo begini mah..🙂

Sebelumnya tekankan dulu dalam fikiran kita, kita sedang ingin berkompromi tentang plan hidup, jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak, harus ada hal-hal yang dikorbankan antara kita dan dia, tujuan utamanya itu adalah mencapai kondisi ideal dimana hal yang saling kita korbankan menjadi minimal, ditambah saran-saran yang solutif dari kita. Misalkan saja, sejak tahun lalu sebelum berencana untuk menikah, aq sudah berencana bahwa tahun ini aq harus kuliah lagi. Tapi karena aq juga mungkin kerja, maka aq harus mengambil perkuliahan di malam hari atau weekend. Hal ini cukup berat karena pastinya, aq tidak bisa terus mendampingi calon suami yang kadang hanya available saat weekend, aq harus saving untuk biaya kuliah, dan mungkin  calon suami juga pengen, tapi belom bisa karena kondisi pekerjaan yang belom stabil. Akhirnya dengan berkomunikasi lagi,  kita sepakat untuk gantian, karena bagaimanapun menuntut ilmu selama masih bisa itu penting. Jadi kalau aq udah selesai S2 dan dia sudah mulai stabil kondisi pekerjaanya dia yang gantian ambil S2. Setelah selesai S2 mungkin aq bisa cari kerjaan yang lebih stabil dan fokus ngurus rumah tangga.🙂

Selain masalah plan hidup yang berubah, masalah ‘kapan’ akan dipengaruhi juga oleh kesiapan kita dan calon suami dalam segi finansial (kalo mau resepsi yang lumayan gede), dan kesiapan mental orang tua dan calon mertua kita. Secara psikologis, mungkin sesaat setelah mengatakan “Yes, I will”, kita telah dalam kondisi siap untuk menikah. Tapi bagaimana dengan orang tua? Jika selama ini kita telah berkomunikasi dengan baik tentang rencana kapan kira-kira kita akan menikah, mungkin orang tua tidak akan kaget dan telah menyiapkan diri untuk menerima anggota keluarga yang baru. Tapi kalau maen slonong boy aja tiba-tiba bilang, “Ma, Pa, aku dilamar, bulan depan aku nikah ya?” bisa-bisa sakit jantung tuh orangtua kita. Kalo kata calon suamiku, kepercayaan orang tua akan kesiapan anaknya untuk menikah, selain dilihat dari segi finansial juga dari segi kaya apa sih calon istri atau calon suami anakku, jangan-jangan masih childish dan rombongan alay gitu..😆 Nah, penilaian kesiapan anak ini yang biasanya jadi pertimbangan si orang tua untuk memberikan restu sama si anak. Kalo dilihat masih alay-alay dan gak meyakinkan gitu paling juga dibilang, “tar lah setahun lagi aja, kamu ngsms aja masih susah dibacanya” 😆

Ada lagi niy kasus yang unik, mungkin hanya terjadi di Indonesia. Masih ada orang tua yang pengen anaknya nikahnya di tanggal atau hari baik, yang dicarinya susah, mesti pake hitung-hitungan gitu. Kalo gak nemu tanggalnya tahun ini, ya kamu nikahnya tahun depan, kalo gak nemu lagi ya tahun depannya lagi.. Haaaah…susah amat ya mau nikah aja.. **suara hati si anak** Nah, untuk kasus kaya gini, butuh pendekatan yang ekstraaaaa sama orang tua/calon mertua kita. Bagaimanapun menikah itu kan menggabungkan dua keluarga, bukan cuma urusan kita dan calon suami saja. Kita juga membawa nama keluarga kita, jadi segala macam masalah kaya gini harus diselesaikan, jangan dibiarkan atau parah-parahnya kita bersikap frontal dan malah menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Solusinya, pahamkan dulu masalah dasar penentuan hari pernikahan. Harusnya yang lebih diperhatikan untuk menjadi dasar penentuannya adalah masalah availabilitas kedua keluarga, dan keadaan finansial (jika ingin resepsi). Kalo dapet hari baik (yang entah gimana ngitungnya) tapi calon suami kita harus pergi keluar kota atau itu waktu hectic-hectinya kerjaan sehingga kita atau orang tua susah cuti kan jadi gak maksimal juga nanti acaranya. Pahamkan juga kalau, menurut pandangan islam, lebih baik menyegerakan pernikahan jika sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak, seperti hadits Rasulullah SAW:

“Tiga hal yang tidak boleh diperlambat: sholat bila sudah waktunya, jenazah bila sudah didatangkan, dan gadis bila sudah menemukan calon suami yang sekufu.” (HR At-Tirmidzi)


2. Uangnya Cuma Ada Segini..

Ini masalah basic yang hampir dialami semua calon pengantin, apalagi yang usianya masih 20an dan belum begitu mapan. Belajar dari pengalaman, beberapa kasus pernikahan yang pernah aq konsultasikan dengan mama terbentur pada masalah pembiayaan pernikahan. Sebagian orang mungkin bisa dengan santai bilang, tenang aja masih bisa pinjem kok. Tapi..hei..hei… masa hidup baruku dimulai dengan hutang, naudzubillah. Jadi mama sejak awal tegas sama aq kalau misalnya memang ada adakan resepsi, kalau enggak ya gak usah. Seadanya aja, kan walimah itu sunnah, yang wajib toh akadnya. Tapi mungkin gak semua orang tua beranggapan seperti itu. Dalam beberapa kasus, orang tua tetap ingin mengadakan resepsi pernikahan anaknya, dengan pertimbangan pride dan silaturahim terhadap saudara dan tetangga. Hal ini harus kita pahami juga, sebisa mungkin, selama masih bisa dipenuhi dan tidak melanggar hukum ya kenapa enggak. Mudah-mudahan kita bisa dapet pahala sunnahnya🙂

Masalah pembiayaan resepsi menurut survei akan menghabiskan sekitar 70% dari proses pernikahan itu sendiri. Jadi, karena judulnya adalah dana terbatas, maka kita harus pintar-pintar niy memanage pengeluaran yang honestly suka gak sadar dipake buat apa aja. Caranya ya dengan mempersiapkan dengan baik rencana resepsi pernikahan kita. Hal yang harus dianalisis di awal perencanaan adalah, kira-kira pos apa yang akan memakan biaya paling besar dalam rencana pernikahan kita.

Kalau jarak antara rumah kita dan calon suami cukup jauh, biaya transportasi akan menjadi hal yang costing. Kalau peserta yang mau ikut ke acara walimah gak bisa dikurangi berarti cara lainnya adalah kita harus pilih waktu yang efektif untuk mengurangi biaya transportasi ini. Misalnya menunggu saat yang tepat untuk dapat membeli tiket pesawat economy promo (kadang harus sabar biar dapet yang bener-bener murah, mungkin nanti bisa dishare deh tips-tips mencari pesawat murah :))

Selanjutnya pos yang akan memakan banyak biaya adalah resepsi itu sendiri. Setelah menentukan tanggal pernikahan, coba cek dulu kira-kira sampai H-1 bulan ada berapa saldo di rekening kalian. Usahakan untuk hanya menggunakan sekitar 80-85% dana yang ada (kalo bisa sisakan lebih banyak). Sisakan untuk keperluan mendadak atau kebutuhan pasca pernikahan yang udah pasti makin banyak, seperti sewa rumah, isi rumah dan lain sebagainya.

Dengan perkiraan dana yang ada, coba cari informasi Wedding Organizer setempat tempat kamu akan melaksanakan resepsi. Sebelumnya pikirkan dulu kamu mau mengadakan resepsi di rumah atau di gedung, dengan pertimbangan kondisi rumah dan fisik serta psikologis orang tua. Kalau orang tua sudah tua dan kondisi rumah sepertinya tidak memungkinkan untuk pesta, sebaiknya pesta di gedung mungkin lebih baik. Secara umum, pesta di gedung akan memakan biaya lebih mahal, namun efek lelah (apalagi jika keluarga calon suami/istri kita datang dari tempat yang jauh) bisa direduksi. Selanjutnya bisa disimulasikan deh, hasil survei ke beberapa wedding organizer versus kamu dan teman-temanmu sendiri yang menjadi WO. Lihat plus minus dan kesesuaiannya sama budget. Tips lain adalah, kurangi pengeluaran-pengeluaran yang gak terlalu urgent seperti masalah baju pernikahan, seserahan, percetakan undangan atau souvenir dan lain sebagainya. Kegiatan survei harga untuk masalah undangan dan souvenir mungkin akan melelahkan, tapi demi mengurangi pengeluaran, hal ini kudu dilakukan. Setelah survei dilakukan, nah sesuaikanlah dengan budget, kalau memang ingin mendapatkan undangan yang lebih bagus/mahal dengan budget yang sama mungkin jumlah undangan fisik yang dicetak bisa dikurangi, sebagai gantinya bisa digunakan undangan elektronik atau announcement via email/facebook.

Masalah selanjutnya adalah hidup setelah menikah, beberapa teman mengaku stress memikirkan bagaimana bisa hidup berdua dengan suami setelah tau pendapatan per bulan si suami, apalagi jika si calon suami melarang si calon istri untuk bekerja setelah menikah. Hey..hey.. calon ibu-ibu…itulah fungsinya kita sebagai seorang istri, mendisiplinkan pengeluaran kita dan suami, untuk bisa hidup lebih baik. Kuncinya mungkin, banyak-banyak bersyukur, manajemen pengeluaran yang baik, kurangi atau hindari hutang, usahakan walaupun sedikit tetap menabung, dan jangan lupa bayar zakat😀, karena dengan mengeluarkan hak orang lain dari pendapatan kita, harta kita insya Allah akan lebih berkah.

Jika dengan amat sangat harus berhutang, ukur dulu pengeluaran pasca pernikahan, dan lihat berapa uang yang bisa kita sisihkan untuk melunasi hutang tersebut dalam jangka waktu tertentu. Tapi semua orang juga pasti tidak mau berlama-lama punya hutang, apalagi jika setelah menikah harus membayar KPR, dan biaya-biaya lain. Jika misalnya kita hanya bisa menyisihkan 30% dari gaji untuk membayar hutang dan kita ingin hutang tersebut segera lunas maksimal 3 sampai 6 bulan pasca pernikahan. Maka maksimum hutang yang masih rasional kita ambil adalah sekitar 20-25% x 5 bulan gaji. Sebisa mungkin jangan menghabiskan semua uang gaji kita 6 bulan ke depan hanya untuk resepsi satu hari. Waduh, aq dah kaya financial consultant aja niy, heu2…. banyakan teori yah, tapi mudah-mudahan berhasil deh..

Ayo mulai hidup baru kita tanpa berhutang😉 #kampanyeantihutang


3. Kok kayanya aku terus siy yang riweuh

“Aq capek tau! kayanya aq terus yang ribet, kamunya tenang-tenang aja”

Waaah, pernah pengen tereak kaya gitu? wajar siy, apalagi kalo lagi menstruasi, hehe. Jujur aja, masalah persiapan pernikahan itu gak simpel, bener-bener diuji kesabaran abis-abisan deh. Secara psikologis, otak wanita itu memang lebih ribeeet daripada kaum lelaki, jadi wajar kalau para wanita ini mikirin sesuatu lebih ribet daripada cowok.

Misalnya aja waktu milih undangan, test food atau seserahan, mungkin si cowok lebih prefer mikir, uang ada berapa, butuh berapa banyak, ada percetakan yang harganya segitu, ya udah. Tapi mungkin kalo cewek mikir lebih ribet, kaya aq pengen undangannya warna ini biar senada sama warna kebaya aq, terus pengennya harganya yang segini, kalau bisa lebih murah, jadilah survei kesana-kesini yang mungkin buat cowok hal kaya gitu itu ribet.

Solusinya, bikin timeline dan bagi jobdesk. Pisahkan tugas yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri dan yang harus dikerjakan berdua. Misalnya untuk pesan undangan dan souvenir, karena cewek lebih pemilih dan keberadaan cowok gak begitu berati, mungkin lebih baik kalau diserahkan aja sama cewek biar lebih puas milihnya. Untuk urusan logistik acara, susunan acara, koordinasi dengan pengisi acara dan lobbying mungkin bisa dilakukan oleh cowok. Tapi, walaupun dikerjakan sendiri-sendiri, sebisa mungkin tetap ada komunikasi walapun cuma sekedar pemberitahuan. Karena udah sepakat saling percaya sama hasil tugas yang dibagi jangan terlalu mengusik tugas yang lain, nanti kalau ada masalah, baru dipikirin sama-sama solusinya.

Tapi yang paling penting dari semuanya adalah rasa percaya dan ikhlas. Ketika hendak menikah, memangnya apa yang kita inginkan? tentu saja keharmonisan rumah tangga kan? Jika tidak dimulai dari sekarang, yang mungkin hanya masalah-masalah kecil, bagaimana kita menghadapi permasalahan rumah tangga yang mungkin lebih kompleks dari saat ini. Secara umum laki-laki itu lebih logis dan egois, jadi gak ada salahnya kita mengalah dan membicarakan semuanya kembali dengan fikiran yang jernih. Kalau ada masalah karena sensitifitas kita, ya  harus secepatnya kita sadari.

Buat para cowok juga, secara umum cewek itu lebih sensitif, jadi di masa-masa persiapan pernikahan ini cobalah beri perhatian yang lebih, mungkin satu atau dua sms sehari yang menanyakan kabar cukup untuk menenangkan hati si calon istri. Karena kebanyakan kasus di masa-masa ini wanita akan semakin sering meragukan si calon suami. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa bener aq harus nikah sama dia”,Apa nanti aq bisa hidup sama dia”, “Apa bener dia cinta sama aq, selalu aq duluan yang sms” dan banyak pertanyaan-pertanyaan meragukan lainnya. Salah satu penyakit kronis wanita itu adalah, senang bertanya pertanyaan yang menyakiti diri sendiri, seperti pertanyaan di atas itu, hehe…

Waaah, panjang sekali postinganq kali ini…mudah-mudahan berguna, dan kalau ada salah-salah kata dan saran, silahkan dikritisi dan mari berdiskusi, karena aq juga belum benar-benar melewati masa ini… hehe….

Sekarang cukup sekian dulu, berhubung sudah malam, perut keroncongan, harus segera tidur atau aq akan melahap semua yang ada, haha…🙂

Buitenzorg, 27 Mei 2010

pratigina © 2010

Pernah ngobrol dengan mbak-mbak dan mama tentang perlunya melakukan cek kesehatan sebelum menikah, tapi seberapa urgen siy? Kalu baca-baca dari artikel siy sebenernya urgen, karena kita kan gak pernah tau apakah kita punya penyakit yang bisa mempengaruhi kehamilan, atau bahkan penyakit menular seks (naudzubillah). Berhubung saya ini orang yang sangat malas disuruh ke dokter, jadilah saya juga malas melakukan tes kesehatan ini (Tapi aq sempat mengajak calon suamiku loh… cuma mau bagaimana lagi, bertemu saja sulit :()

Kalau berdasarkan informasi mama siy, biasanya ketika mendaftar ke KUA untuk menikah, zaman dulu siy akan ada petugas yang datang untuk suntik TT (Imunisasi Tetanus gitu deh). Tapi kalo sekarang katanya cuma akan dikasih rekomendasi kliniknya aja. Setelah baca lagi di salah satu artikel, suntik TT ini berguna untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir. Selain imunisasi TT, berdasarkan artikel dari tempo, beberapa imunisasi yang harusnya juga dilakukan sebelum menikah antara lain adalah:

  • Hepatitis B
  • Rubela
  • Herpes, dan
  • Human papillomavirus

Atau untuk lebih jelasnya bisa juga dibaca di sini. Lanjut lagi, kalau dari salah satu artikel di Website Informasi Kesehatan Reproduksi Indonesia, idealnya tes kesehatan pra nikah dilakukan enam bulan sebelum dilakukan pernikahan.  Tes kesehatan pra nikah dapat dilakukan kapanpun selama pernikahan belum berlangsung.  Jika pada saat pengecekan ternyata ditemui ada masalah maka pengobatan dapat dilakukan setelah menikah. Nah looooh….udah tinggal sebulan lagi tau.. **rada panik mode ON**.

Solusinya gimana dunk? Yah, sekali waktu aq menyempatkan untuk menanyakan dengan detil penyakit yang diderita calon suamiku dan penyakitku. Begitu juga penyakit yang diderita kedua orang tua kita, karena mungkin ada penyakit bawaan. Jadi secara umum, kita udah sama-sama tau tentang historis penyakit yang kita derita (dan mudah-mudahan gak ada penambahan data historis di masa depan atas jenis penyakitnya).

Solusi tambahannya mari mulai hidup sehat, istirahat yang cukup, makan yang cukup, sayangi tubuh dan olahraga (duuuh semuanya hal yang sangat sulit dimulai lagi). Demi keharmonisan rumah tangga dan calon anakku, kenapa enggak..heuheu…😉